Rabu, 21 Desember 2011

Sejarah Perang Dunia II


Perang Dunia II, atau Perang Dunia Kedua (biasa disingkat PDII) adalah konflik militer global yang terjadi pada 1 September 1939 sampai 2 September 1945 yang melibatkan sebagian besar negara di dunia, termasuk semua kekuatan-kekuatan besar yang dibagi menjadi dua aliansi militer yang berlawanan: Sekutu dan Poros. Perang ini merupakan perang terbesar sepanjang sejarah dengan lebih dari 100 juta personil. Dalam keadaan "perang total," pihak yang terlibat mengerahkan seluruh bidang ekonomi, industri, dan kemampuan ilmiah untuk melayani usaha perang, menghapus perbedaan antara sipil dan sumber-sumber militer. Lebih dari tujuh puluh juta orang, mayoritas warga sipil, tewas. Hal ini menjadikan Perang Dunia II sebagai konflik paling mematikan dalam sejarah manusia.
Umumnya dapat dikatakan bahwa peperangan dimulai saat Jerman menginvasi Polandia pada tanggal 1 September 1939, dan berakhir pada tanggal 14 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat. Secara resmi PD II berakhir ketika Jepang menandatangani dokumen Japanese Instrument of Surrender di atas kapal USS Missouri pada tanggal 2 September 1945, 6 tahun setelah perang dimulai.






































Perang Dunia II berkecamuk di tiga benua tua; yaitu Afrika, Asia dan Eropa. Berikut adalah data pertempuran-pertempuran dan peristiwa penting di setiap benua.


Asia dan Pasifik

1937 : Perang Sino-Jepang

Konflik perang mulai di Asia beberapa tahun sesudah pertikaian di Eropa. Jepang telah menginvasi Cina pada tahun 1931, jauh sebelum Perang Dunia II dimulai di Eropa. Pada 1 Maret, Jepang menunjuk Henry Pu Yi menjadi kaisar di Manchukuo, negara boneka bentukan Jepang di Manchuria. Pada 1937, perang dimulai ketika Jepang mengambil alih Manchuria.

Roosevelt menandatangani sebuah perintah eksekutif yang tidak diterbitkan (rahasia) pada Mei 1940 yang mengijinkan personel militer AS untuk mundur dari tugas sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam operasi terselubung di Cina sebagai "American Volunteer Group" (AVG) (juga dikenal sebagai Harimau Terbang Chennault). Selama tujuh bulan, kelompok Harimau Terbang berhasil menghancurkan sekitar 600 pesawat Jepang, menenggelamkan sejumlah kapal Jepang, dan menghentikan invasi Jepang terhadap Burma. Dengan adanya tindakan Amerika Serikat dan negara lainnya yang memotong ekspor ke Jepang, maka Jepang merencanakan serangan terhadap Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 tanpa peringatan deklarasi perang; sehingga mengakibatkan kerusakan parah pada Armada Pasifik Amerika. Hari berikutnya, pasukan Jepang tiba di Hong Kong, yang kemudian menyebabkan menyerahnya pasukan Inggris pada Hari Natal di bulan itu.

"Sedikit Saya Tambahkan Tentang Perang Sino-Jepang Kedua"

Perang Sino-Jepang Kedua
Bagian dari Perang Dunia II
Peta kekuasaan Jepang tahun 1940
Peta kekuasaan Jepang tahun 1940.
Tanggal 7 Juli 1937 – 9 September 1945 (perseteruan kecil dimulai sejak 1931)
Lokasi China
Hasil China menang;
Jepang menyerah tanpa syarat.
Casus belli Insiden Jembatan Marco Polo.
Perubahan wilayah Pengembalian Manchuria, Taiwan, dan Kepulauan Pescadores kepada China
Pihak yang terlibat
 Republik Cina Bendera Jepang Jepang
Komandan
Chiang Kai-shek,
Chen Cheng,
Yan Xishan,
Feng Yuxiang,
Li Zongren,
Xue Yue,
Bai Chongxi,
Peng Dehuai
Hirohito,
Hideki Tojo,
Kotohito Kan'in,
Matsui Iwane,
Hajime Sugiyama,
Shunroku Hata,
Toshizo Nishio,
Yasuji Okamura,
Umezu Yoshijiro,
Fumimaro Konoe
Kekuatan
5.600.000 4.100.000 (termasuk 900.000 kaki tangan)
Jumlah korban
3.800.000 militer,
17.530.000 penduduk sipil
1.900.000 militer

Perang Sino-Jepang Kedua (7 Juli 1937 sampai 9 September 1945) adalah perang besar antara China dan Jepang, sebelum dan selama Perang Dunia II. Perang ini adalah perang Asia terbesar pada abad ke-20.

Walaupun kedua negara telah sebentar-sebentar berperang sejak tahun 1931, perang berskala besar baru dimulai sejak tahun 1937 dan berakhir dengan menyerahnya Jepang pada tahun 1945. Perang ini merupakan akibat dari kebijakan imperialis Jepang yang sudah berlangsung selama beberapa dekade. Jepang bermaksud mendominasi China secara politis dan militer untuk menjaga cadangan bahan baku dan sumber daya alam yang sangat banyak dimiliki China. Pada saat yang bersamaan, kebangkitan nasionalisme China dan kebulatan tekad membuat perlawanan tidak bisa dihindari. Sebelum tahun 1937, kedua pihak sudah bertempur dalam insiden-insiden kecil dan lokal untuk menghindari perang secara terbuka. Invasi Manchuria oleh Jepang pada tahun 1931 dikenal dengan nama Insiden Mukden. Bagian akhir dari penyerangan ini adalah Insiden Jembatan Marco Polo tahun 1937 yang menandai awal perang besar-besaran antara kedua negara.

Sejak tahun 1937 sampai 1941, China berperang sendiri melawan Jepang. Setelah peristiwa penyerangan terhadap Pearl Harbor terjadi, Perang Sino-Jepang Kedua pun bergabung dengan konflik yang lebih besar, Perang Dunia II.

Tatanama

Dalam bahasa China, perang ini dikenal sebagai Perang Perlawanan terhadap Jepang, dan juga dikenal sebagai Perang Perlawanan Delapan Tahun, atau lebih singkat Perang Perlawanan.
Di Jepang, Perang Jepang-China (Nicchū Sensō) lebih banyak digunakan karena netralitasnya.

Kata insiden (jihen) digunakan oleh Jepang karena tidak ada negara yang mendeklarasikan perang satu sama lain. Jepang berusaha menghindari campur tangan dari negara lain seperti Inggris dan Amerika Serikat, yang merupakan pengekspor utama besi untuk Jepang. Presiden Amerika Serikat, Roosevelt akan menjatuhkan embargo berdasarkan serangkaian undang-undang yang disebut Akta Netralitas jika pertempuran tersebut disebut perang.
Dalam propaganda Jepang, penyerbuan terhadap China merupakan perang suci (seisen), langkah pertama dari slogan Hakko ichiu (delapan sudut dunia di bawah satu atap). Pada tahun 1940, perdana menteri Konoe membentuk Liga Anggota Parlemen yang Percaya Tujuan Perang Suci. Ketika kedua belah pihak secara resmi mendeklarasikan perang pada Desember 1941, namanya diubah menjadi Perang Asia Timur Raya (Daitōa Sensō).
Pada waktu itu, pemerintah Jepang masih menggunakan istilah "Insiden Shina" dalam dokumen resmi. Berdasarkan alasan penggunaan kata "Shina" dianggap menghina oleh China, media Jepang sering menggantinya dengan istilah-istilah lain yang juga pernah digunakan media tahun 1930-an, seperti: Insiden Jepang-China ([Nikka Jihen], [Nisshi Jihen]).

Latar belakang

Chiang Kai-shek mengumumkan kebijakan KMT dalam perlawanan terhadap Jepang di Lushan pada 10 Juli 1937, tiga hari setelah pertempuran Jembatan Lugou.

Pada tahun 1915, Jepang mengeluarkan Dua Puluh Satu Tuntutan terhadap China untuk menambah kepentingan dalam bidang politik dan perdagangan dengan China. Setelah Perang Dunia I, Jepang merebut kekuasaan daerah Shandong dari Jerman. China di bawah pemerintahan Beiyang tetap terpecah-belah dan tidak mampu untuk melawan serbuan asing sampai Ekspedisi Utara tahun 1926-1928, yang dilancarkan oleh Kuomintang (KMT, atau Partai Nasionalis China), pemerintahan saingan yang berpusat di Guangzhou. Ekspedisi Utara meluas ke seluruh China hingga akhirnya terhenti di Shandong. Pemimpin militer Beiyang, Zhang Zongchang yang didukung Jepang berusaha menghentikan gerak maju Pasukan Kuomintang dalam menyatukan China. Situasi ini mencapai puncaknya ketika pasukan Kuomintang dan Jepang terlibat dalam pertempuran yang disebut Insiden Jinan tahun 1928. Pada tahun yang sama, pemimpin militer Manchuria, Zhang Zuolin juga dibunuh karena ia tidak lagi mau bekerjasama dengan Jepang. Setelah insiden-insiden ini, pemerintah Kuomintang di bawah pimpinan Chiang Kai-shek akhirnya berhasil menyatukan China pada tahun 1928.

Tentara Jepang memasuki Shenyang selama Insiden Mukden.

Walaupun demikian, sejumlah pertempuran antara China dan Jepang terus berlanjut karena meningkatnya nasionalisme China, dan untuk memenuhi salah satu tujuan dari Tiga Prinsip Rakyat, yaitu untuk mengeluarkan China dari imperialisme asing. Bagaimanapun, Ekspedisi Utara hanya mampu menyatukan China secara nama saja, dan perang saudara pecah di antara para mantan pemimpin militer dan faksi saingan, Kuomintang. Sebagai tambahan lagi, para komunis China memberontak terhadap pemerintah pusat setelah melakukan pembersihan terhadap anggotanya. Karena situasi-situasi demikian, pemerintahan pusat China mengalihkan banyak perhatian pada perang-perang saudara dan mengikuti kebijakan "pendamaian internal didahulukan sebelum melawan pihak asing". Situasi ini memberikan kesempatan yang mudah bagi Jepang untuk melanjutkan agresinya. Pada tahun 1931, Jepang menginvasi Manchuria segera setelah Insiden Mukden. Setelah bertempur selama lima bulan, pada tahun 1932, negara boneka Manchukuo dibentuk dengan raja terakhir China, Puyi, diangkat sebagai kepala negara. Tidak bisa menantang Jepang secara langsung, China meminta bantuan kepada Liga Bangsa. Investigasi liga ini menerbitkan Laporan Lytton, yang mengutuk Jepang karena telah menyerang Manchuria, dan mengakibatkan Jepang mengundurkan diri dari Liga Bangsa. Sejak akhir tahun 1920-an dan selama tahun 1930-an, ketenangan adalah dasar dari komunitas internasional dan tidak ada satu negara pun yang ingin menunjukkan pendirian secara aktif, melainkan hanya mengeluarkan kecaman-kecaman kecil. Jepang menganggap Manchuria sebagai sebuah sumber bahan baku yang tidak terbatas dan juga sebagai sebuah negara penyangga terhadap ancaman Uni Soviet.

Konflik yang terjadi menyusul Insiden Mukden tidak terhenti. Pada tahun 1932, tentara China dan Jepang bertempur dalam sebuah pertempuran singkat pada Insiden 28 Januari di Shanghai. Pertempuran ini menghasilkan demiliterisasi Shanghai, yang melarang China untuk menempatkan tentara di kota mereka sendiri. Di Manchukuo, terdapat sebuah kampanye yang sedang berlangsung untuk mengalahkan tentara sukarelawan yang bangkit karena kekecewaan terhadap kebijakan yang tidak menentang Jepang. Pada tahun 1933, Jepang menyerang wilayah Tembok Besar, dan setelah itu, Gencatan Senjata Tanggu ditandatangani, yang memberi Jepang kendali atas provinsi Rehe dan sebuah zona demiliterisasi antara Tembok Besar dan wilayah Beiping-Tianjin. Jepang bertujuan untuk membuat wilayah penyangga yang lain, kali ini antara Manchukuo dan pemerintah Nasionalis China yang saat itu beribukota di Nanjing.

Selain itu, Jepang semakin memperalat konflik internal antara faksi-faksi China untuk mengurangi kekuatan mereka satu demi satu. Hal ini disebabkan karena fakta bahwa beberapa tahun setelah Ekspedisi Utara, kekuatan politik pemerintah Nasionalis hanya meluas di sekitar Delta Sungai Panjang (Yangtze), dan wilayah lain China yang memang berada dalam kekuatan regional. Jepang sering membeli atau membuat hubungan khusus dengan kekuatan-kekuatan regional ini untuk merusak usaha pemerintah Nasionalis pusat untuk menyatukan China. Untuk itu, Jepang mencari berbagai pengkhianat China untuk bekerjasama dan membantu mereka memimpin beberapa pemerintahan otonomi yang bersahabat dengan Jepang. Kebijakan ini disebut Pengkhususan China Utara (bahasa Tionghoa: pinyin: húaběitèshūhùa), atau yang lebih sering diketahui sebagai Gerakan Otonomi China Utara. Provinsi bagian utara yang terlibat dalam kebijakan ini adalah Chahar, Suiyuan, Hebei, Shanxi, dan Shandong.

Pada tahun 1935, di bawah tekanan Jepang, China menandatangani Perjanjian He-Umezu, yang melarang KMT untuk menjalankan kegiatan partainya di Hebei dan secara langsung mengakhiri kekuasaan China atas China Utara. Pada tahun yang sama, Perjanjian Chin-Doihara ditandatangani dan mengakibatkan KMT disingkirkan dari Chahar. Dengan demikian, pada akhir 1935, pemerintahan pusat China telah disingkirkan dari China Utara. Sebagai gantinya, Majelis Otonomi Hebei Timur dan Majelis Politik Hebei-Chahar dibentuk oleh Jepang.

Tokoh besar

China: Nasionalis

 

  • Chiang Kai-Shek 
  • Bai Chongxi 
  • Chen Cheng 
  • Du Yuming
  • Fang Xianjue
  • Feng Yuxiang
  • Gu Zhutong 
  • He Yingqin 
  • H. H. Kung 
  • Hu Kexian
  • Hu Zongnan
  • Li Zongren
  • Long Yun
  • Ma Zhanshan
  • Song Zheyuan
  • Soong May-ling 
  • T. V. Soong
  • Sun Lianzhong
  • Sun Liren 
  • Tang Enbai
  • Tang Shengzhi
  • Wang Jingwei
  • Wei Lihuang
  • Xue Yue
  • Yan Xishan
  • Xie Jinyuan
  • Ye Ting
  • Zhang Fakui
  • Zhang Zhizhong
  • Zhang Zizhong
  • Zhu Shaoliang 

China: Komunis

 

  • Chen Yi
  • Deng Xiaoping 
  • He Long
  • Lin Biao
  • Liu Bocheng
  • Liu Shaoqi
  • Luo Ronghuan
  • Mao Zedong 
  • Nie Rongzhen
  • Peng Dehuai 
  • Su Yu
  • Xu Xiangqian
  • Ye Jianying
  • Zhang Aiping
  • Zhou Enlai
  • Zhu De

Jepang: Tentara Kekaisaran Jepang

 

  • Kaisar Shōwa/Hirohito
  • Abe Nobuyuki
  • Anami Korechika
  • Pangeran Asaka
  • Pangeran Chichibu
  • Doihara Kenji
  • Pangeran Fushimi Hiroyasu
  • Hashimoto Kingoro
  • Hata Shunroku
  • Pangeran Higashikuni
  • Honma Masaharu
  • Ishii Shiro
  • Isogai Rensuke
  • Itagaki Seishiro
  • Pangeran Kan'in Kotohito
  • Konoe Fumimaro (Kyūjitai, Shinjitai)
  • Kanji Ishiwara
  • Koiso Kuniaki
  • Matsui Iwane
  • Mutaguchi Renya
  • Nakajima Kesago
  • Nishio Toshizo
  • Okamura Yasuji
  • Sakai Takashi
  • Sugiyama Hajime
  • Pangeran Takeda
  • Terauchi Hisaichi
  • Tojo Hideki (Kyūjitai, Shinjitai)
  • Umezu Yoshijiro
  • Yamaguchi Tamon
  • Yamashita Tomoyuki

Pemerintahan boneka

Manchukuo
  • Puyi
Mengjiang
  • Demchugdongrub
Dewan Otonomi Hebei Timur
  • Yin Ju-keng
Pemerintah Provisional Republik China
  • Wang Kemin
Pemerintah Nasionalis Nanjing
  • Chen Gongb
  • Wang Jingwe
  • Zhou Foha

Personel asing kubu China

  • Alexander von Falkenhausen
  • Joseph Stilwell
  • Albert Coady Wedemeyer
  • Claire Chennault
  • Agnes Smedley
  • Edgar Snow
  • Norman Bethune
  • John Rabe
  • Jakob Rosenfeld
  • Morris Abraham "Two-Gun" Cohen
  • James Gareth Endicott
  • Dwarkanath Kotnis

1940 : Jajahan Perancis Vichy

Pada 1940, Jepang menduduki Indocina Perancis (kini Vietnam) sesuai persetujuan dengan Pemerintahan Vichy meskipun secara lokal terdapat kekuatan Pembebasan Perancis (Forces Françaises Libres/FFL), dan bergabung dengan kekuatan Poros Jerman serta Italia. Aksi ini menguatkan konflik Jepang dengan Amerika Serikat dan Britania Raya yang bereaksi dengan memboikot kiriman minyak terhadap Jepang.

1941 : Pearl Harbor, A.S. turut serta dalam perang, invasi Jepang di Asia Tenggara

Serangan udara terhadap USS West Virginia dan USS Tennessee di Pearl Harbor.

Pada 7 Desember 1941, pesawat Jepang dikomandoi oleh Laksamana Madya Chuichi Nagumo melaksanakan serangan udara kejutan terhadap Pearl Harbor, pangkalan angkatan laut AS terbesar di Pasifik. Pasukan Jepang menghadapi perlawanan kecil dan menghancurkan pelabuhan tersebut. AS dengan segera mengumumkan perang terhadap Jepang.

Bersamaan dengan serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang juga menyerang pangkalan udara AS di Filipina. Setelah serangan ini, Jepang menginvasi Filipina dan koloni-koloni Inggris di Hong Kong, Malaya, Borneo dan Birma dengan maksud selanjutnya menguasai ladang minyak Hindia Belanda. Seluruh wilayah ini dan daerah yang lebih luas lagi, jatuh ke tangan Jepang dalam waktu beberapa bulan saja. Markas Britania Raya di Singapura juga dikuasai, yang dianggap oleh Churchill sebagai salah satu kekalahan dan sejarah yang paling memalukan bagi Britania.

Pengeboman Pearl Harbor

Penyerangan Pearl Harbor
Bagian dari Teater Pasifik, Perang Dunia II
Attack on Pearl Harbor Japanese planes view.jpg
Foto Pearl Harbor dari pesawat terbang Jepang menunjukkan barisan kapal temput di awal penyerangan. Ledakan yang tampak di tengah gambar adalah serangan torpedo ke USS West Virginia
Tanggal 7 Desember 1941
Lokasi Utamanya Pearl Harbor, Hawaii, Amerika Serikat (saat itu masih merupakan teritori administrasi, belum menjadi negara bagian Amerika Serikat)
Hasil Kemenangan mutlak Jepang;
Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Kekaisaran Jepang; Jerman Nazi dan Kerajaan Italia menyatakan perang terhadap Amerika Serikat.
Casus belli embargo minyak dan perdagangan oleh Amerika Serikat; kebuntuan diplomasi antara Jepang dan AS.
Pihak yang terlibat
 Amerika Serikat Bendera Jepang Kekaisaran Jepang
Komandan

Bendera Amerika Serikat Husband Kimmel
Bendera Amerika Serikat Walter Short

Bendera Jepang Chuichi Nagumo
Bendera Jepang Isoroku Yamamoto
Kekuatan
8 kapal tempur,
8 penjelajah,
30 perusak,
4 kapal selam,
49 kapal lainnya,
~390 pesawat
Satuan Bergerak:
6 kapal induk,
2 kapal tempur,
2 penjelajah berat,
1 penjelajah ringan,
9 perusak,
8 tanker,
23 kapal selam,
5 kapal selam midget,
414 pesawat
Jumlah korban
4 kapal tempur tenggelam,
4 kapal tempur rusak termasuk 1 kandas
2 perusak tenggelam, 1 rusak
1 kapal lainnya tenggelam, 3 rusak
3 penjelajah rusak

188 pesawat hancur, 155 pesawat rusak,
2.345 militer dan 57 sipil tewas,
1.247 militer dan 35 sipil terluka
4 kapal selam midget tenggelam,
1 kapal selam midget kandas,
29 pesawat hancur,
55 awak udara tewas, 9 awak kapal selam tewas dan 1 tertangkap

Dengan pengeboman Pearl Harbor, Jepang membawa Amerika Serikat kepada Perang Dunia II di daerah Pasifik.
Pengeboman ini dilakukan pada tanggal 7 Desember 1941. Kala itu Angkatan Laut Jepang menyerang markas AL Amerika Serikat secara tiba-tiba di Hawai'i. Hasil serangan ini ialah rusaknya atau tenggelamnya +/- 20 kapal tempur Amerika, 188 pesawat terbang rusak dan 2.403 korban jiwa. Di pihak Jepang, Jepang 'hanya' kehilangan 55 pesawat tempur dari 441 pesawat tempur yang dipakai.
Setelah peristiwa ini, Jepang baru menyatakan perang kepada Amerika Serikat dan memulai kampanye militernya di Asia-Pasifik Raya.

Selayang Pandang

Pada 26 November 1941 angkatan yang terdiri atas enam kapal induk diperintah oleh Wakil Laksamana Chuichi Nagumo Jepang meninggalkan Teluk Hitokappu di Kepulauan Kuril dan menuju ke Pearl Harbor tanpa melakukan hubungan radio langsung apapun.

Pada pagi 7 Desember 1941, kapal terbang angkatan tersebut mengebom semua pangkalan militer Amerika Serikat di kepulauan Hawaii (terbesar merupakan pangkalan udara Angkatan Darat Amerika Serikat di pangkalan militer Angkatan Udara Hickam), dan kebanyakan kapal yang berlabuh di pelabuhan Pearl, termasuk "Barisan Kapal Tempur". Hampir semua kapal terbang Amerika dimusnahkan di atas tanah; hanya beberapa pejuang berhasil lolos dan bertempur. Dua belas kapal perang dan kapal lain ditenggelamkan atau rusak, 188 kapal terbang dimusnahkan, 155 telah rusak dan 2.403 orang Amerika kehilangan nyawa mereka. Kapal perang USS Arizona diledakkan dan tenggelam menyebabkan 1.100 orang kehilangan jiwa, hampir separuh dari orang Amerika yang mati. Badannya diabadikan menjadi tugu peringatan kepada mereka yang tewas pada hari itu, kebanyakan dari mereka diabadikan di dalam kapal tersebut.

Tembakan Amerika pertama dilepaskan pada Perang Dunia II dan korban pertama serangan Pearl Harbor sebenarnya terjadi saat USS Ward menyerang dan menenggelamkan kapal selam kerdil Jepang. Terdapat lima kapal selam kerdil kelas Ko-hyoteki yang merancang untuk mentorpedo kapal Amerika Serikat saat pengeboman dimulai. Tidak satupun kapal selam tersebut berhasil kembali, dan hanya empat dari lima yang dijumpai semenjak itu. Dari sepuluh kelasi kapal selam tersebut, sembilan mati dan hanya seorang selamat , Sakamaki Kazuo, yang ditangkap; dia merupakan tahanan perang pertama yang ditangkap oleh pihak Amerika dalam Perang Dunia II.

Analisis gambar terkini oleh Institut Angkatan Laut Amerika Serikat - United States Naval Institute menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan besar salah sebuah kapal selam kerdil telah berhasil memasuki pelabuhan, dan berhasil menembakkan torpedo ke arah USS West Virginia. Kedudukan terakhir kapal selam ini tidak diketahui.

Kapal induk Jepang yang terlibat dalam serangan tersebut adalah: Akagi, Hiryu, Kaga, Shokaku, Soryu, Zuikaku. Semuanya memiliki sejumlah 441 kapal terbang, termasuk pejuang, pengebom-torpedo, pengebom penyelam dan pengebom-pejuang (fighter-bombers). Dari semuanya, 29 musnah dalam pertempuran. Kapal terbang menyerang dalam dua gelombang, dan Nagumo memutuskan untuk membatalkan serangan ketiga untuk mundur.

Serangan pertama terhadap Pearl Harbor adalah pada pukul 07:53 tanggal 7 Desember, Waktu Hawai'i ataupun pukul 03:23 tanggal 8 Desember Waktu Jepang (lihat Nota Pasukan Penyerang Pearl Harbor). Militer Jepang mulai memasuki perbatasan Jajahan Baru Hong Kong pada subuh 8 Desember 1941. Hong Kong Time adalah satu jam belakang Masa Kemenangan Jepang, dengan itu serangan pada Pearl Harbor merupakan sebagian perperangan pentas luas serangan hampir serentak dan bukannya permulaan 24 jam sebelum serangan di Asia gambaran yang mungkin kelihatan jika sekilas melihat tanggal.

Strategi

Angkatan Jepang berlayar ke arah Pearl Harbor tanpa pemberitahuan sampai saat-saat terakhir.
Tujuan serangan Pearl Harbor adalah untuk melumpuhkan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pasifik, walaupun untuk sementara. Laksamana Isoroku Yamamoto sendiri menyatakan bahwa serangan yang berhasil sekalipun hanya memberikan setahun dua tahun kebebasan bertindak. Jepang telah terlibat dalam perperangan dengan Cina selama beberapa tahun (bermula pada tahun 1937) dan telah merampas Manchuria beberapa tahun sebelumnya. Rancangan untuk serangan Pearl Harbor untuk menyokong kelanjutan ketentaraan lanjut bermulai pada Januari 1941, dan latihan untuk misi berlangsung pada pertengahan tahun saat proyek ini dianggap layak setelah perselisihan sesama tentara laut Kekaisaran (Imperial Navy infighting).

Sebagian dari rancangan Jepang untuk serangan ini termasuk memutuskan perundingan dengan Amerika Serikat sebelum (dan hanya sebelum) serangan tersebut. Duta dari Kedutaan Jepang di Washington, termasuk wakil istimewa Kurusu Saburu, telah mengadakan perbincangan lanjut dengan Departemen Negara mengenai reaksi Amerika Serikat terhadap pergerakan Jepang ke Indochina pada musim panas. Hanya sebelum serangan, perutusan panjang dengan tujuan mengantarkannya dari Kedutaan ke Kantor Urusan Luar Negeri di Tokyo, dengan tujuan untuk mengantarkannya ke Sekretaris Hull sejurus sebelum serangan dijadwalkan bermula (contoh., 1 PM waktu Washington). Disebabkan kelewatan nyah-enkripsi dan menaip, tangan kanan Kedutaan gagal melakukannya; perutusan panjang memutuskan perundingan diantarkan lama setelah waktu yang sepatutnya, dan lama selepas serangan telah bermulai. Kelewatan penyampaian nota tersebut menambah kemarahan Amerika Serikat terhadap serangan tersebut, dan sebab utama bagi gambaran terkemuka Roosevelt sebagai "… tanggal yang akan abadi dalam kekejian". Yamamoto kelihatannya setuju; dia juga tidak gembira dengan kesalahan waktu. Dia dikatakan telah berkata, "Saya bimbang apa yang kita lakukan adalah membangunkan raksasa yang tidur dan memberikannya tekad yang dashyat", tetapi ini dikatakan petikan yang dicipta untuk filem, Tora! Tora! Tora!. Walaupun petikan itu bukan disebut oleh Yamamoto, ia kelihatannya menggambarkan perasaannya mengenai serangan tersebut.
Barisan Kapal Tempur memberikan kepadatan sasaran yang menarik.
Kedua bagian perutusan akhir telah dinyah-enkripsi oleh Amerika Serikat lama sebelum Kedutaan Jepang berhasil melakukannya, dan nyah-enkripsi bagian kedua yang menyebabkan Jenderal George Marshall untuk menghantar peringatan terkenalnya ke Hawaii pada pagi — yang sebenarnya diantar oleh, penunggang sepeda perutusan Jepang kelahiran Amerika, kepada Jenderal Walter Short di Pearl Harbor beberapa jam selepas serangan berakhir (terdapat kesulitan dengan komunikasi Militer, dan kelewatan penghantaran akibat kabel perdagangan, dan entah bagaimana kehilangan tanda "PENTING" dalam penghantarannya).

Dampak sesaat

Tempat penyimpanan peluru hadapan USS Arizona meledak begitu terkena bom yang digugurkan oleh Kusumi Tadashi.

Dari segi tujuan strategi serangan ke atas Pearl Harbor merupakan, dalam tempo singkat ke serdahana, kejayaan gemilang yang melampaui mimpi terbaik perancangnya dan mempunyai sedikit yang setanding dengannya dalam sejarah ketentaraan di era apapun. Disebabkan kehilangan yang parah di Pearl Harbor dan penjajahan lanjutan Jepang di Filipina, dalam tempo enam bulan berikutnya, angkatan laut Amerika Serikat hampir gagal memainkan peranan penting dalam pentas Asia Perang Dunia II. Dengan Angkatan Pasifik Amerika Serikat hampir keluar dari perkiraan, pihak Jepang bebas dari kebimbangan mengenai kekuasaan laut Pasifik lain. Jepang terus menjajah Asia Tenggara, seluruh barat daya Pasifik dan mengulurkan cengkeramannya jauh ke Samudera Hindia.

Dampak masa panjang

Bagaimanapun, dalam jangka masa panjang serangan ke atas Pearl Harbor merupakan malapetaka strategis bagi Jepang. Malah Laksamana Yamamoto Isoroku, yang mencetuskan ide menyerang Pearl Harbor, telah meramalkan bahwa sungguhpun dengan kejayaan menyerang Angkatan Amerika Serikat tidak akan dan tidak mampu memenangkan peperangan dengan Amerika Serikat, sebab kemampuan pengeluaran Amerika terlalu besar. Salah satu tujuan Jepang adalah untuk memusnahkan tiga kapal induk Amerika Serikat yang diletakkan di Pasifik, tetapi tiada ketika serangan terjadi Enterprise dalam perjalanan pulang, Lexington telah berlayar keluar beberapa hari sebelumnya, dan Saratoga berada di San Diego selepas pengubah-suaian di Galangan Angkatan Laut Puget Sound. Merusak kebanyakan kapal perang Amerika Serikat dari bertugas, dianggap secara meluas oleh tenteAngkatan Laut dan pemerhati sedunia sebagai keberhasilan cermelang bagi pihak Jepang. Kehilangan kapal perang meninggalkan AL AS tiada pilihan kecuali meletakkan keyakinan mereka pada kapal induk dan kapal selam, yang merupakan kebanyakan yang tinggal dan ini merupakan peralatan dengan mana AL AS menghentikan dan kemudian mengundurkan kemajuan Jepang. Kehilangan kapal perang sebenarnya tidak sepenting yang dipikirkan oleh semua orang sebelum (di Jepang) dan selepas serangan (di Jepang dan Amerika Serikat).
Presiden Franklin Delano Roosevelt menandatanganiDeklarasi Perang terhadap Jepang pada hari berikutnya selepas serangan.
Kemungkinan yang paling penting, serangan Pearl Harbor bertindak sebagai katalisator yang menggerakkan sebuah negara untuk bertindak serta merta yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh perkara lain. Dalam waktu semalam saja, ia menyatukan seluruh Amerika dengan tujuan berperang dan memenangkan peperangan dengan Jepang, dan kemungkinan mendorong kedudukan penyerahan tanpa syarat yang ditekankan oleh pihak Sekutu. Sebagian sejarawan percaya bahwa Jepang tetap akan kalah, tanpa memandang samaada depot minyak dan kedai mesin dimusnahkan atau sekiranya kapal induk berada di pelabuhan dan ditenggelamkan.

Tindakan pembalasan Amerika Serikat

Pada 8 Desember 1941, Kongres Amerika Serikat menyatakan perang atas Jepang dengan Jeannette Rankin yang merupakan orang yang satu-satunya tak setuju atas pernyataan itu. Franklin D. Roosevelt menandatangani pernyataan perang tidak lama kemudian, menggelar hari sebelumnya "tanggal yang akan kekal dalam keburukan." Pemerintah Amerika Serikat meneruskan pengerahan tentara, dan mulai beralih kepada ekonomi perang.

Permasalahan terkait adalah kenapa Jerman Nazi menyatakan perang atas Amerika Serikat pada 11 Desember 1941 sejurus selepas serangan Jepang. Hitler tidak perlu melakukannya di bawah syarat blok Poros, tetapi tetap melakukannya. In pastinya menggandakan kemarahan penduduk Amerika dan membenarkan Amerika Serikat untuk menningkatkan sokongannya terhadap Britania Raya, yang melewatkan sedikit tempo tindakan pembalasan Amerika atas kekalahan di Pasifik.

Kepentingan dalam sejarah

Pertempuran ini, sebagaimana Pertempuran Lexington dan Concord, mempunyai dampak terhadap sejarah. Ia hanya mempunyai sedikit dampak militer akibat kegagalan angkatan laut Jepang untuk menenggelamkan kapal induk Amerika Serikat, tetapi sungguhpun sekiranya kapal induk telah ditenggelamkan tidak akan membantu Jepang dalam jangka masa panjang. Serangan tersebut membuat Amerika Serikat terlibat penuh dan ekonomi pengilangan dan pelayanannya yang besar kepada Perang Dunia II, mendorong pada kekalahan blok Poros sedunia. Saat mendengar bahwa serangan atas Pearl Harbor akhirnya telah melibatkan Amerika Serikat ke dalam peperangan, Perdana Menteri Britania Raya, Winston Churchill, menulis "Dengan emosi dan penuh perasaan yang puas, saya baring ke pembaringan dan tidur dengan tidur orang yang diselamatkan dan bersyukur". (Sir Winston Churchill – The Second World War, jilid 3, halaman 539)". Kemenangan pihak Sekutu dalam pertempuran ini dan kebangkitan Amerika Serikat sebagai kuasa besar dunia telah membentuk politik internasional sejak saat itu.

Catatan kaki

  1. Kapal-kapal yang ada di Pearl Harbor pada 0800 7 Desember 1941, Pusat Sejarah Angkatan Laut AS
  2. Laporan CinCP mengenai kerusakan kapal-kapal di Pearl Harbor from www.ibiblio.org/hyperwar. Unless otherwise stated, all vessels listed were salvageable.
  3. Conn, Stetson; Fairchild, Byron; Engelman, Rose C. (2000), "7 — The Attack on Pearl Harbor", Guarding the United States and Its Outposts, Washington D.C.: Center of Military History United States Army. p.194
  4. "Damage to United States Naval Forces and Installations as a Result of the Attack", Report of the Joint Committee on the Investigation of the Pearl Harbor Attack, Washington D.C.: United States Government Printing Office., 20 November 1946, diakses pada 8 Desember 2007 p.64
  5. Martin Gilbert, The Second World War(1989) hal. 272
Lihat Videonya Di Youtube


1942 : Invasi Hindia-Belanda

Penyerbuan ke Hindia Belanda diawali dengan serangan Jepang ke Labuan, Brunei, Singapura, Semenanjung Malaya, Palembang, Tarakan dan Balikpapan yang merupakan daerah-daerah sumber minyak. Jepang sengaja mengambil taktik tersebut sebagai taktik gurita yang bertujuan mengisolasi kekuatan Hindia Belanda dan Sekutunya yang tergabung dalam front ABDA (America (Amerika Serikat), British (Inggris), Dutch (Belanda), Australia) yang berkedudukan di Bandung. Serangan-serangan itu mengakibatkan kehancuran pada armada laut ABDA khususnya Australia dan Belanda.

Sejak peristiwa ini, Sekutu akhirnya memindahkan basis pertahanannya ke Australia meskipun demikian Sekutu masih mempertahankan beberapa kekuatannya di Hindia Belanda agar tidak membuat Hindia Belanda merasa ditinggalkan dalam pertempuran ini.
Jepang mengadakan serangan laut besar-besaran ke Pulau Jawa pada bulan Februari-Maret 1942 dimana terjadi Pertempuran Laut Jawa antara armada laut Jepang melawan armada gabungan yang dipimpin oleh Laksamana Karel Doorman. Armada Gabungan sekutu kalah dan Karel Doorman gugur.

Jepang menyerbu Batavia (Jakarta) yang akhirnya dinyatakan sebagai kota terbuka, kemudian terus menembus Subang dan berhasil menembus garis pertahanan Lembang-Ciater, kota Bandung yang menjadi pusat pertahanan Sekutu-Hindia Belanda terancam. Sementara di front Jawa Timur, tentara Jepang berhasil menyerang Surabaya sehingga kekuatan Belanda ditarik sampai garis pertahanan Porong.

Terancamnya kota Bandung yang menjadi pusat pertahanan dan pengungsian membuat panglima Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Poorten mengambil inisiatif mengadakan perdamaian. Kemudian diadakannya perundingan antara Tentara Jepang yang dipimpin oleh Jendral Hitoshi Imamura dengan pihak Belanda yang diwakili Letnan Jendral Ter Poorten dan Gubernur Jendral jhr A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Pada Awalnya Belanda bermaksud menyerahkan kota Bandung namun tidak mengadakan kapitulasi atau penyerahan kekuasaan Hindia Belanda kepada Pihak Jepang. Pada saat itu posisi Panglima tertinggi angkatan perang Hindia Belanda tidak lagi berada pada Gubernur Jendral namun diserahkan kepada Ter Poorten sehingga dilain waktu Belanda menganggap bahwa kedudukan di Hindia Belanda masih tetap sah dilanjutkan. Namun setelah Jepang mengancam akan mengebom kota Bandung akhirnya Jendral Ter Poorten setuju untuk menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

1942 : Laut Coral, Port Moresby, Midway, Guadalcanal

Pada Mei 1942, serangan laut terhadap Port Moresby, Papua Nugini digagalkan oleh pasukan Sekutu dalam Perang Laut Coral. Kalau saja penguasaan Port Moresby berhasil, Angkatan Laut Jepang dapat juga menyerang Australia. Ini merupakan perlawanan pertama yang berhasil terhadap rencana Jepang dan pertarungan laut pertama yang hanya menggunakan kapal induk. Sebulan kemudian invasi Atol Midway dapat dicegah dengan terpecahnya pesan rahasia Jepang, menyebabkan pemimpin Angkatan Laut AS mengetahui target berikut Jepang yaitu Atol Midway. Pertempuran ini menyebabkan Jepang kehilangan empat kapal induk yang industri Jepang tidak dapat menggantikannya, sementara Angkatan Laut AS kehilangan satu kapal induk. Kemenangan besar buat AS ini menyebabkan Angkatan Laut Jepang kini dalam posisi bertahan.

Pendaratan AS di Pasifik, Agustus 1942-Agustus 1945
Namun, dalam bulan Juli penyerangan darat terhadap Port Moresby dijalankan melalui Track Kokoda yang kasar. Di sini pasukan Jepang bertemu dengan pasukan cadangan Australia, banyak dari mereka masih muda dan tak terlatih, menjalankan aksi perang dengan keras kepala menjaga garis belakang sampai tibanya pasukan reguler Australia dari aksi di Afrika Utara, Yunani dan Timur Tengah.
Para pemimpin Sekutu telah setuju mengalahkan Nazi Jerman adalah prioritas utama masuknya Amerika ke dalam perang. Namun pasukan AS dan Australia mulai menyerang wilayah yang telah jatuh, mulai dari Pulau Guadalcanal, melawan tentara Jepang yang getir dan bertahan kukuh. Pada 7 Agustus 1942 pulau tersebut diserang oleh Amerika Serikat. Pada akhir Agustus dan awal September, selagi perang berkecamuk di Guadalcanal, sebuah serangan amfibi Jepang di timur New Guinea dihadapi oleh pasukan Australia dalam Teluk Milne, dan pasukan darat Jepang menderita kekalahan meyakinkan yang pertama. Di Guadalcanal, pertahanan Jepang runtuh pada Februari 1943.

1943–1945 : Serangan Sekutu di Asia dan Pasifik

Pasukan Australia and AS melancarkan kampanye yang panjang untuk merebut kembali bagian yang diduduki oleh Pasukan Jepang di Kepulauan Solomon, New Guinea dan Hindia Belanda, dan mengalami beberapa perlawanan paling sengit selama perang. Seluruh Kepulauan Solomon direbut kembali pada tahun 1943, New Britain dan New Ireland pada tahun 1944. Pada saat Filipina sedang direbut kembali pada akhir tahun 1944, Pertempuran Teluk Leyte berkecamuk, yang disebut sebagai perang laut terbesar sepanjang sejarah. Serangan besar terakhir di area Pasifik barat daya adalah kampanye Borneo pertengahan tahun 1945, yang ditujukan untuk mengucilkan sisa-sisa pasukan Jepang di Asia Tenggara, dan menyelamatkan tawanan perang Sekutu.

Kapal selam dan pesawat-pesawat Sekutu juga menyerang kapal dagang Jepang, yang menyebabkan industri di Jepang kekurangan bahan baku. Bahan baku industri sendiri merupakan salah satu alasan Jepang memulai perang di Asia. Keadaan ini semakin efektif setelah Marinir AS merebut pulau-pulau yang lebih dekat ke kepulauan Jepang.
Tentara Nasionalis Cina (Kuomintang) dibawah pimpinan Chiang Kai-shek dan Tentara Komunis Cina dibawah Mao Zedong, keduanya sama-sama menentang pendudukan Jepang terhadap Cina, tetapi tidak pernah benar-benar bersekutu untuk melawan Jepang. Konflik kedua kekuatan ini telah lama terjadi jauh sebelum Perang Dunia II dimulai, yang terus berlanjut, sampai batasan tertentu selama perang, walaupun lebih tidak kelihatan.

Pasukan Jepang telah merebut sebagian dari Burma, memutuskan Jalan Burma yang digunakan oleh Sekutu untuk memasok Tentara Nasionalis Cina. Hal ini menyebabkan Sekutu harus menyusun suatu logistik udara berkelanjutan yang besar, yang lebih dikenal sebagai "flying the Hump". Divisi-divisi Cina yang dipimpin dan dilatih oleh AS, satu divisi Inggris, dan beberapa ribu tentara AS, membersihkan Burma utara dari pasukan Jepang sehingga Jalan Ledo dapat dibangun untuk menggantikan Jalan Burma. Lebih ke selatan, induk dari tentara Jepang di kawasan perang ini berperang sampai terhenti di perbatasan Burma-India oleh Tentara ke-14 Inggris yang dikenal sebagai "Forgotten Army", yang dipimpin oleh Mayor Jendral Wingate yang kemudian melancarkan serangan balik dan berhasil dengan taktik gerilyanya yang terkenal dan bahkan dijadikan acuan bagi Tentara dan Pejuang Indonesia pada tahun 1945–1949. Setelah merebut kembali seluruh Burma, serangan direncanakan ke semenanjung Malaya ketika perang berakhir.

1945 : Iwo Jima, Okinawa, bom atom, penyerahan Jepang

Bom atom berjulukan Fat Man, menimbulkan cendawan asap di atas kota Nagasaki, Jepang.


Surat penyerahan diri Jepang kepada Sekutu
Perebutan pulau-pulau seperti Iwo Jima dan Okinawa oleh pasukan AS menyebabkan Kepulauan Jepang berada dalam jangkauan serangan laut dan udara Sekutu. Di antara kota-kota lain, Tokyo dibom bakar oleh Sekutu, dimana dalam penyerangan awal sendiri ada 90.000 orang tewas akibat kebakaran hebat di seluruh kota. Jumlah korban yang tinggi ini disebabkan oleh kondisi penduduk yang padat di sekitar sentra produksi dan konstruksi kayu serta kertas pada rumah penduduk yang banyak terdapat di masa itu. Tanggal 6 Agustus 1945, bomber B-29 "Enola Gay" yang dipiloti oleh Kolonel Paul Tibbets, Jr. melepaskan satu bom atom Little Boy di Hiroshima, yang secara efektif menghancurkan kota tersebut.
Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang, seperti yang telah disetujui pada Konferensi Yalta, dan melancarkan serangan besar terhadap Manchuria yang diduduki Jepang (Operasi Badai Agustus). Tanggal 9 Agustus 1945,pesawat bomber jenis Boeing B-29 Superfortress "Bock's Car" yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney melepaskan satu bom atom Fat Man di Nagasaki.

Kombinasi antara penggunaan bom atom dan keterlibatan baru Uni Soviet dalam perang merupakan faktor besar penyebab menyerahnya Jepang, walaupun sebenarnya Uni Soviet belum mengeluarkan deklarasi perang sampai tanggal 8 Agustus 1945, setelah bom atom pertama dilepaskan. Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945, menandatangani surat penyerahan pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri di teluk Tokyo.


Afrika dan Timur Tengah

1940 : Mesir dan Somaliland

Pertempuran di Afrika Utara bermula pada 1940, ketika sejumlah kecil pasukan Inggris di Mesir memukul balik serangan pasukan Italia dari Libya yang bertujuan untuk merebut Mesir terutama Terusan Suez yang vital. Tentara Inggris, India, dan Australia melancarkan serangan balik dengan sandi Operasi Kompas (Operation Compass), yang terhenti pada 1941 ketika sebagian besar pasukan Persemakmuran (Commonwealth) dipindahkan ke Yunani untuk mempertahankannya dari serangan Jerman. Tetapi pasukan Jerman yang belakangan dikenal sebagai Korps Afrika di bawah pimpinan Erwin Rommel mendarat di Libya, melanjutkan serangan terhadap Mesir.

1941 : Suriah, Lebanon, Korps Afrika merebut Tobruk

Pada Juni 1941 Angkatan Darat Australia dan pasukan Sekutu menginvasi Suriah dan Lebanon, merebut Damaskus pada 17 Juni. Di Irak, terjadi penggulingan kekuasaan atas pemerintah yang pro-Inggris oleh kelompok Rashid Ali yang pro-Nazi. Pemberontakan didukung oleh Mufti Besar Yerusalem, Haji Amin al-Husseini. Oleh karena merasa garis belakangnya terancam, Inggris mendatangkan bala bantuan dari India dan menduduki Irak. Pemerintahan pro-Inggris kembali berkuasa, sementara Rashid Ali dan Mufti Besar Yerusalem melarikan diri ke Iran. Namun kemudian Inggris dan Uni Soviet menduduki Iran serta menggulingkan shah Iran yang pro-Jerman. Kedua tokoh Arab yang pro-Nazi di atas kemudian melarikan diri ke Eropa melalui Turki, di mana mereka kemudian bekerja sama dengan Hitler untuk menyingkirkan orang Inggris dan orang Yahudi. Korps Afrika dibawah Rommel melangkah maju dengan cepat ke arah timur, merebut kota pelabuhan Tobruk. Pasukan Australia dan Inggris di kota tersebut berhasil bertahan hingga serangan Axis berhasil merebut kota tersebut dan memaksa Divisi Ke-8 (Eighth Army) mundur ke garis di El Alamein.

1942 : Pertempuran El Alamein Pertama dan Kedua

Crusader tank Britania melewati Panzer IV Jerman yang terbakar di tengah gurun
Pertempuran El Alamein Pertama terjadi di antara 1 Juli dan 27 Juli 1942. Pasukan Jerman sudah maju ke yang titik pertahanan terakhir sebelum Alexandria dan Terusan Suez. Namun mereka telah kehabisan suplai, dan pertahanan Inggris dan Persemakmuran menghentikan arah mereka.
Pertempuran El Alamein Kedua terjadi di antara 23 Oktober dan 3 November 1942 sesudah Bernard Montgomery menggantikan Claude Auchinleck sebagai komandan Eighth Army. Rommel, panglima cemerlang Korps Afrika Tentara Jerman, yang dikenal sebagai "Rubah Gurun", absen pada pertempuran luar biasa ini, karena sedang berada dalam tahap penyembuhan dari sakit kuning di Eropa. Montgomery tahu Rommel absen. Pasukan Persemakmuran melancarkan serangan, dan meskipun mereka kehilangan lebih banyak tank daripada Jerman ketika memulai pertempuran, Montgomery memenangkan pertempuran ini.

Sekutu mempunyai keuntungan dengan dekatnya mereka ke suplai mereka selama pertempuran. Lagipula, Rommel hanya mendapat sedikit atau bahkan tak ada pertolongan kali ini dari Luftwaffe, yang sekarang lebih ditugaskan dengan membela angkasa udara Eropa Barat dan melawan Uni Soviet daripada menyediakan bantuan di Afrika Utara untuk Rommel. Setelah kekalahan Jerman di El Alamein, Rommel membuat penarikan strategis yang cemerlang ke Tunisia. Banyak sejarawan berpendapat bahwa berhasilnya Rommel pada penarikan strategis Korps Afrika dari Mesir lebih mengesankan daripada kemenangannya yang lebih awal, termasuk Tobruk, karena dia berhasil membuat seluruh pasukannya kembali utuh, melawan keunggulan udara Sekutu dan pasukan Persemakmuran yang sekarang diperkuat oleh pasukan AS.
Pasukan Sekutu mendarat, dalam serangan bernama sandi Operasi Obor.

1942 : Operasi Obor (Torch Operation), Afrika Utara Perancis

Untuk melengkapi kemenangan ini, pada 8 November 1942 dilancarkanlah Operasi Obor (Operation Torch) dibawah pimpinan Jendral Dwight Eisenhower. Tujuan utama operasi ini adalah merebut kontrol terhadap Maroko dan Aljazair melalui pendaratan simultan di Casablanca, Oran, dan Aljazair, yang dilanjutkan beberapa hari kemudian dengan pendaratan di Bône, gerbang menuju Tunisia.

Pasukan lokal di bawah Perancis Vichy sempat melakukan perlawanan terbatas, sebelum akhirnya bersedia bernegosiasi dan mengakhiri perlawanan mereka.

1943 : Kalahnya Korps Afrika

Korps Afrika tidak mendapat suplai secara memadai akibat dari hilangnya pengapalan suplai oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara Sekutu, terutama Inggris, di Laut Tengah. Kekurangan persediaan ini dan tak adanya dukungan udara, memusnahkan kesempatan untuk melancarkan serangan besar bagi Jerman di Afrika. Pasukan Jerman dan Italia terjepit di antara pergerakan maju pasukan Sekutu di Aljazair dan Libya. Pasukan Jerman yang sedang mundur terus melakukan perlawanan sengit, dan Rommel mengalahkan pasukan AS pada Pertempuran Kasserine Pass sebelum menyelesaikan pergerakan mundur strategisnya menuju garis suplai Jerman. Dengan pasti, bergerak maju baik dari arah timur dan barat, pasukan Sekutu akhirnya mengalahkan Korps Afrika Jerman pada 13 Mei 1943 dan menawan 250.000 tentara Axis.

Setelah jatuh ke tangan Sekutu, Afrika Utara dijadikan batu loncatan untuk menyerang Sisilia pada 10 Juli 1943. Setelah merebut Sisilia, pasukan Sekutu melancarkan serangan ke Italia pada 3 September 1943. Italia menyerah pada 8 September 1943, tetapi pasukan Jerman terus bertahan melakukan perlawanan. Roma akhirnya dapat direbut pada 5 Juni 1944.

Eropa dan Rusia (Uni Soviet)

1939 : Invasi Polandia, Invasi Finlandia

Salah satu foto bewarna Perang Dunia II yang selamat dari 40 juta foto hitam putih lainnya. Tampak di tengah-tengah Adolf Hitler.


Schleswig Holstein firing Gdynia 13.09.1939
Perang Dunia II mulai berkecamuk di Eropa dengan dimulainya serangan ke Polandia pada 1 September 1939 yang dilakukan oleh Hitler dengan gerak cepat yang dikenal dengan taktik Blitzkrieg, dengan memanfaatkan musim panas yang menyebabkan perbatasan sungai dan rawa-rawa di wilayah Polandia kering yang memudahkan gerak laju pasukan lapis baja Jerman serta mengerahkan ratusan pembom tukik yang terkenal Ju-87 Stuka. Polandia yang sebelumnya pernah menahan Uni Soviet di tahun 1920-an saat itu tidak memiliki kekuatan militer yang berarti. Kekurangan pasukan lapis baja, kekurang siapan pasukan garis belakang dan koordinasinya dan lemahnya Angkatan Udara Polandia menyebabkan Polandia sukar memberi perlawanan meskipun masih memiliki 100 pesawat tempur namun jumlah itu tidak berarti melawan Angkatan Udara Jerman "Luftwaffe". Perancis dan kerajaan Inggris menyatakan perang terhadap Jerman pada 3 September sebagai komitment mereka terhadap Polandia pada pakta pertahanan Maret 1939.

Setelah mengalami kehancuran disana sini oleh pasukan Nazi, tiba tiba Polandia dikejutkan oleh serangan Uni Soviet pada 17 September dari timur yang akhirnya bertemu dengan Pasukan Jerman dan mengadakan garis demarkasi sesuai persetujuan antara Menteri Luar Negeri keduanya, Ribentrop-Molotov. Akhirnya Polandia menyerah kepada Nazi Jerman setelah kota Warsawa dihancurkan, sementara sisa sisa pemimpin Polandia melarikan diri di antaranya ke Rumania. Sementara yang lain ditahan baik oleh Uni Soviet maupun Nazi. Tentara Polandia terakhir dikalahkan pada 6 Oktober.

Jatuhnya Polandia dan terlambatnya pasukan sekutu yang saat itu dimotori oleh Inggris dan Perancis yang saat itu dibawah komando Jenderal Gamelin dari Perancis membuat Sekutu akhirnya menyatakan perang terhadap Jerman. Namun juga menyebabkan jatuhnya kabinet Neville Chamberlain di Inggris yang digantikan oleh Winston Churchill. Ketika Hitler menyatakan perang terhadap Uni Soviet, Uni Soviet akhirnya membebaskan tawanan perang Polandia dan mempersenjatainya untuk melawan Jerman. Invasi ke Polandia ini juga mengawali praktik-praktik kejam Pasukan SS dibawah Heinrich Himmler terhadap orang orang Yahudi. 

Perang Musim Dingin dimulai dengan invasi Finlandia oleh Uni Soviet, 30 November 1939. Pada awalnya Finlandia mampu menahan pasukan Uni Soviet meskipun pasukan Soviet memiliki jumlah besar serta dukungan dari armada udara dan lapis baja, karena Soviet banyak kehilangan jendral-jendral yang cakap akibat pembersihan yang dilakukan oleh Stalin pada saat memegang tampuk kekuasaan menggantikan Lenin. Finlandia memberikan perlawanan yang gigih yang dipimpin oleh Baron Carl Gustav von Mannerheim serta rakyat Finlandia yang tidak ingin dijajah. Bantuan senjata mengalir dari negara Barat terutama dari tetangganya Swedia yang memilih netral dalam peperangan itu. Pasukan Finlandia memanfaatkan musim dingin yang beku namun dapat bergerak lincah meskipun kekuatannya sedikit (kurang lebih 300.000 pasukan). Akhirnya Soviet mengerahkan serangan besar besaran dengan 3.000.000 tentara menyerbu Finlandia dan berhasil merebut kota-kota dan beberapa wilayah Finlandia. Sehingga memaksa Carl Gustav untuk mengadakan perjanjian perdamaian.
Ketika Hitler menyerang Rusia (Uni Soviet), Hitler juga memanfaatkan pejuang-pejuang Finlandia untuk melakukan serangan ke kota St. Petersburg.

1940 : Invasi Eropa Barat, Republik-republik Baltik, Yunani, Balkan

Perang Dunia II di Eropa. Merah adalah Sekutu atau penguasaannya, Biru adalah Axis atau penguasaannya, dan Hijau adalah Uni Soviet sebelum bergabung dengan Sekutu tahun 1941.


Benito Mussolini (kiri) dan Adolf Hitler.
Dengan tiba-tiba Jerman menyerang Denmark dan Norwegia pada 9 April 1940 melalui Operasi Weserübung, yang terlihat untuk mencegah serangan Sekutu melalui wilayah tersebut. Pasukan Inggris, Perancis, dan Polandia mendarat di Namsos, Andalsnes, dan Narvik untuk membantu Norwegia. Pada awal Juni, semua tentara Sekutu dievakuasi dan Norwegia-pun menyerah.
Operasi Fall Gelb, invasi Benelux dan Perancis, dilakukan oleh Jerman pada 10 Mei 1940, mengakhiri apa yang disebut dengan "Perang Pura-Pura" (Phony War) dan memulai Pertempuran Perancis. Pada tahap awal invasi, tentara Jerman menyerang Belgia, Belanda, dan Luxemburg untuk menghindari Garis Maginot dan berhasil memecah pasukan Sekutu dengan melaju sampai ke Selat Inggris. Negara-negara Benelux dengan cepat jatuh ke tangan Jerman, yang kemudian melanjutkan tahap berikutnya dengan menyerang Perancis. Pasukan Ekspedisi Inggris (British Expeditionary Force) yang terperangkap di utara kemudian dievakuasi melalui Dunkirk dengan Operasi Dinamo. Tentara Jerman tidak terbendung, melaju melewati Garis Maginot sampai ke arah pantai Atlantik, menyebabkan Perancis mendeklarasikan gencatan senjata pada 22 Juni dan terbentuklah pemerintahan boneka Vichy.

Pada Juni 1940, Uni Soviet memasuki Latvia, Lituania, dan Estonia serta menganeksasi Bessarabia dan Bukovina Utara dari Rumania.

Jerman bersiap untuk melancarkan serangan ke Inggris dan dimulailah apa yang disebut dengan Pertempuran Inggris atau Battle of Britain, perang udara antara AU Jerman Luftwaffe melawan AU Inggris Royal Air Force pada tahun 1940 memperebutkan kontrol atas angkasa Inggris. Jerman berhasil dikalahkan dan membatalkan Operasi Singa Laut atau Seelowe untuk menginvasi daratan Inggris. Hal itu dikarenakan perubahan strategi Luftwaffe dari menyerang landasan udara dan industri perang berubah menjadi serangan besar-besaran pesawat pembom ke London. Sebelumnya terjadi pemboman kota Berlin yang ddasarkan pembalasan atas ketidaksengajaan pesawat pembom Jerman yang menyerang London. Alhasil pilot peswat tempur Spitfire dan Huricane dapat beristirahat. Perang juga berkecamuk di laut, pada Pertempuran Atlantik kapal-kapal selam Jerman (U-Boat) berusaha untuk menenggelamkan kapal dagang yang membawa suplai kebutuhan ke Inggris dari Amerika Serikat.
Pada 27 September 1940, ditanda tanganilah pakta tripartit oleh Jerman, Italia, dan Jepang yang secara formal membentuk persekutuan dengan nama (Kekuatan Poros).
Italia menyerbu Yunani pada 28 Oktober 1940 melalui Albania, tetapi dapat ditahan oleh pasukan Yunani yang bahkan menyerang balik ke Albania. Hitler kemudian mengirim tentara untuk membantu Mussolini berperang melawan Yunani. Pertempuran juga meluas hingga wilayah yang dikenal sebagai wilayah bekas Yugoslavia. Pasukan NAZI mendapat dukungan dari sebagian Kroasia dan Bosnia, yang merupakan konflik laten di daerah itu sepeninggal Kerajaan Ottoman. Namun Pasukan Nazi mendapat perlawanan hebat dari kaum Nasionalis yang didominasi oleh Serbia dan beberapa etnis lainnya yang dipimpin oleh Josip Broz Tito. Pertempuran dengan kaum Nazi merupakan salah satu bibit pertempuran antar etnis di wilayah bekas Yugoslavia pada dekade 1990-an.

1941 : Invasi Uni Soviet

  • Operasi Barbarossa

Operasi Barbarossa
Bagian dari Blok Timur Perang Dunia II
Rencana Jerman
Tanggal 22 Juni 1941 – 5 Desember 1941
Lokasi Polandia, Belarusia, Ukraina, Moldova, Lithuania, Latvia, Estonia, Russia Barat
Hasil Axis menaklukkan wilayah Uni Soviet dan menimbulkan kerugian besar pada Tentara Merah, tapi gagal dalam seluruh tujuan strategis mengalahkan USSR pada kampanye Blitzkrieg
Pihak yang terlibat
Bendera Jerman Jerman
Bendera Rumania Rumania
Bendera Finlandia Finlandia
Bendera Italia Italia
Bendera Hongaria Hongaria
Bendera Slowakia Slovakia
Bendera Kroasia Kroasia
Bendera Uni Soviet Uni Soviet
Komandan
Bendera Jerman Adolf Hitler
Bendera Jerman Franz Halder
Bendera Jerman Wilhelm Ritter von Leeb
Bendera Jerman Fedor von Bock
Bendera Jerman Gerd von Rundstedt
Bendera Rumania Ion Antonescu
Bendera Finlandia Carl Gustaf Emil Mannerheim
Bendera Uni Soviet Joseph Stalin
Bendera Uni Soviet Georgiy Zhukov
Bendera Uni Soviet Aleksandr Vasilyevskiy
Bendera Uni Soviet Semeon Budyonny
Bendera Uni Soviet Kliment Voroshilov
Bendera Uni Soviet Semeon Timoshenko
Bendera Uni Soviet Markian Popov
Bendera Uni Soviet Fedor Kuznetsov
Bendera Uni Soviet Dmitry Pavlov
Bendera Uni Soviet Ivan Tyulenev
Kekuatan
~3.9 juta,
3,600 tank,
4,389 pesawat
46,000 artileri
~3.2 juta (kemudian + 5 juta)
12-15,000 tank,
35-40,000 pesawat (11,357 siap tempur pada 22 Juni 1941)
Jumlah korban
terbunuh: 250,000
terluka: 500,000
hilang: 25,000
kerusakan: 2,093 pesawat
2,758 tank
terbunuh: 802,191 terluka: 3,000,000
tertangkap: 3,300,000 kerusakan: 21,200 pesawat
20,500 tank

Operasi Barbarossa (Jerman: Unternehmen Barbarossa) adalah sebutan invasi tentara Nazi Jerman di Uni Soviet pada Perang Dunia II. Invasi ini dimulai pada tanggal 22 Juni 1941. Lebih dari 4,5 juta tentara dari kekuatan Axis Uni Soviet menyerbu sepanjang 2.900 km (1.800 mil). Perencanaan untuk Operasi Barbarossa dimulai pada tanggal 18 Desember 1940; rahasia persiapan dan operasi militer itu sendiri berlangsung hampir satu tahun, dari musim semi tahun 1940 sampai musim dingin 1941.
Barbarossa adalah nama seorang Kaisar Jerman pada Abad Pertengahan.

Mula-mula pasukan Adolf Hitler menang dengan taktik Blitzkrieg nya, tetapi musim dingin tiba dan ini adalah sekutu terbaik Rusia. Pasukan Jerman mampu menghancurkan pasukan-pasukan Uni Soviet namun gagal memperhitungkan kemampuan Uni Soviet untuk secara terus-menerus memperbarui dan mempersenjatai pasaukan baru. Yakin bahwa Jepang tidak akan menyerang di Timur, Stalin juga menarik pasukan Uni Soviet dari Siberia untuk mempertahankan Moskwa dan melakukan serangan balik. Pasukan Jerman dapat menekan sampai beberapa kilometer dari Moskwa, namun serangan balik Uni Soviet di tengah musim dingin akhirnya berhasil mematahkan Operasi Barbarossa. Hitler mengharapkan pukulan cepat dan tidak mempersiapkan perang yang berkelanjutan di tengah musim dingin Rusia.

Tujuan

Tujuan operasional Barbarossa adalah penaklukan cepat Eropa bagian barat Uni Soviet dari jalur yang menghubungkan kota-kota Arkhangelsk dan Astrakhan, yang sering disebut jalur AA. Pada akhir bulan Januari 1942, Tentara Merah telah ditolak Wehrmacht , sebuah pukulan terkuat. Adolf Hitler tidak mencapai kemenangan yang diharapkan, tetapi situasi Uni Soviet tetap mengerikan. Taktis, Jerman telah memenangkan beberapa kemenangan gemilang dan menduduki beberapa wilayah ekonomi paling penting di negeri, terutama di Ukraina. Meskipun keberhasilan ini, Jerman didesak mundur dari Moskow dan tak pernah me-mount sebuah serangan secara simultan di sepanjang seluruh Soviet-Jerman strategis depan lagi.

Operasi Barbarossa merupakan kegagalan Hitler dan menyebabkan tuntutan untuk melakukan operasi lebih lanjut di Uni Soviet, yang semuanya pada akhirnya gagal, seperti melanjutkan Pengepungan Leningrad, Operasi Nordlicht, dan Pertempuran Stalingrad, pertempuran antara lain di wilayah yang diduduki Soviet. Operasi Barbarossa masih merupakan operasi militer terbesar, dalam hal kekuatan pasukan dan korban, dalam sejarah manusia. Kegagalan tersebut merupakan titik balik dalam keberuntungan Reich Ketiga. Paling penting, Operasi Barbarossa membuka Blok Timur, di mana pasukan lebih berkomitmen daripada di medan pertempuran dalam sejarah dunia. Operasi Barbarossa dan daerah-daerah yang jatuh di bawahnya menjadi tempat beberapa pertempuran terbesar, mematikan, kekejaman, korban tertinggi, dan kondisi yang paling mengerikan bagi Soviet dan Jerman - yang semuanya memengaruhi Perang Dunia II dan sejarah abad ke-20.

Jerman

Teori Nazi tentang Uni Soviet

Pada awal 1925, Hitler membuat rencana akan menyerang Uni Soviet, dan menyatakan bahwa rakyat Jerman membutuhkan "ruang untuk hidup", yaitu sumber daya alam dan bahwa ini harus dicari di timur. Kebijakan rasial Nazi Jerman (ideologi Nazi) menyatakan bahwa Uni Soviet dihuni oleh etnis Slavia dan dikuasai oleh paham Yahudi Bolshevisme. Perjuanganku (catatan Hitler) menyatakan bahwa takdi Jerman adalah kembali ke "Timur" seperti pada "enam ratus tahun yang lalu " dan "akhir dominasi Yahudi di Rusia juga akan menjadi akhir bagi Rusia sebagai suatu negara. Setelah itu, Hitler berbicara tentang pertempuran yang tak terhindarkan melawan "cita-cita pan-Slav", dimana kemenangan akan membawa kepada " penguasaan dunia yang permanen ", walaupun ia mengatakan bahwa mereka akan "berjalan bersama Rusia, jika dapat membantu kami ". Dengan demikian, kebijakan Nazi adalah untuk membunuh, mendeportasi atau memperbudak Rusia dan populasi Slavia lainnya dan terisi kembali dengan bangsa Jermanik.

Nazi-Soviet 1939-1940

Soviet dan invasi Jerman, aneksasi, dan lingkungan yang berpengaruh di Eropa Tengah dan Timur 1939-1940

Pakta Molotov-Ribbentrop telah ditandatangani lama sebelum Invasi Polandia Jerman dan Soviet pada tahun 1939. Sebuah pakta non-agresi tetapi protokol rahasia diuraikan bahwa kesepakatan antara Reich Ketiga dan Uni Soviet tentang pembagian perbatasan negara Pakta ini mengejutkan dunia karena pihak 'saling permusuhan dan menentang Ideologi mereka. Sebagai hasil dari perjanjian itu, Nazi Jerman dan Uni Soviet memiliki hubungan diplomatik cukup kuat dan hubungan ekonomi yang penting. Memasukkan negara-negara Jerman-Soviet dalam Perjanjian Komersial (1940) (pakta perdagangan tahun 1940)), di mana militer Jerman Soviet menerima dan peralatan industri sebagai ganti bahan baku, seperti minyak, untuk membantu Jerman menghindari blokade Inggris.

Tapi kedua belah pihak sangat curiga terhadap satu sama lain. Setelah Jerman memasuki Pakta Tripartit dengan Jepang dan Italia, mulai perundingan tentang potensi Soviet masuk ke dalam pakta. Setelah dua hari perundingan ,12-14 November, di Berlin, Jerman, diusulkan untuk Soviet masuk Axis. Uni Soviet menawarkan perjanjian tandingan pada tanggal 25 November 1940, dan Jerman tidak menjawabnya. Ketika kedua belah pihak mulai berbenturan di Eropa Timur, timbul konflik dalam membahas beberapa isu terbuka, Januari 1941, walaupun mereka menandatangani perjanjian perbatasan dan persetujuan komersial.

Rencana invasi Jerman

Reputasi Stalin dalam kontribusi kepada Nazi tentang pembenaran serangan mereka dan pertempuran mereka sukses. Pada akhir 1930-an, Stalin telah membunuh atau memenjarakan jutaan warga selama Great Purge, termasuk perwira militer yang kompeten dan berpengalaman, meninggalkan Tentara Merah menjadi lemah dan kehilangan pemimpin. Nazi sering menekan Soviet secara brutal saat menargetkan propaganda terhadap Slavia. Propaganda Jerman mengklaim [Tentara Merah sedang bersiap-siap untuk menyerang mereka, dan invasi mereka sendiri sebagai pra-efek perang.

Di musim panas 1940, saat Jerman krisis bahan baku dan potensi benturan dengan Uni Soviet atas wilayah di Balkan muncul, invasi Uni Soviet tampak solusi satu-satunya. Meskipun tidak ada rencana lagi, pada bulan Juni, Hitler mengatakan kepada salah seorang jendral bahwa kemenangan di Eropa Barat "akhirnya membebaskan diri untuk mendapat tugas penting: melawan Bolshevisme", walaupun Hilter mengatakan bahwa pendudukan Rusia Barat akan menciptakan "lebih mengeluarkan daripada mendapat bantuan untuk situasi ekonomi Jerman." Hitler mengantisipasi manfaat tambahan:
  • Ketika Uni Soviet dikalahkan, maka kekurangan buruh dalam industri Jerman bisa dibantu oleh demobilisasi tentara.
  • Ukraina akan menjadi sumber pertanian.
  • Setelah Uni Soviet sebagai sumber pekerja, dapat meningkatkan posisi geostrategis Jerman.
  • Kekalahan dari Uni Soviet akan semakin mengisolasi Sekutu, terutama Inggris.
  • Perekonomian Jerman membutuhkan lebih banyak minyak dan mengendalikan tambang minyak akan tercapai; seperti perkataan Albert Speer, Menteri Jerman Produksi Peralatan Perang dan Perang, dalam wawancara, "kebutuhan minyak jelas motif utama" dalam keputusan untuk menyerbu
Weisung Nr. 21: Operasi Barbarossa
Pada tanggal 5 Desember, Hitler menerima rencana militer untuk invasi, dan disetujui, dengan mulai dijadwalkan pada Mei 1941. Pada tanggal 18 Desember 1940, Hitler menandatangani Directive Perang Nomor 21 kepada Komando Tinggi Jerman untuk operasi dengan nama sandi "Operasi Barbarossa" yang menyatakan : "Wehrmacht Jerman harus siap untuk menghancurkan Rusia dalam kampanye yang cepat." Operasi ini diberi nama Kaisar Frederick Barbarossa dari Kekaisaran Romawi Suci, seorang pemimpin dari Perang Salib Ketiga pada abad ke-12. Invasi ditetapkan mulai 15 Mei 1941. Pada bulan Desember, Stanlin mengingatkan para jenderal Uni Soviet tentang perhatian Hitler bahwa mereka harus selalu siap untuk menahan serangan Jerman, dan Hitler berpikir bahwa Tentara Merah akan memerlukan empat tahun untuk persiapan diri. Oleh karena itu, "kita harus siap lebih awal" dan "kami akan mencoba untuk menunda perang selama dua tahun lagi." Pada musim gugur 1940, pejabat tinggi Jerman merancang sebuah memorandum mengenai bahaya invasi Soviet. Mereka mengatakan Ukraina, Belarussia dan Baltik Serikat akan berakhir sebagai beban ekonomi saja bagi Jerman. Pejabat Jerman lainnya berpendapat bahwa Soviet dalam bentuk birokrasi tidak berbahaya, pendudukan tidak akan menghasilkan keuntungan bagi Jerman.
Hitler mengabaikan penentang ekonomi Jerman, meskipun Jenderal Georg Thomas telah menyiapkan laporan konsekuensi negatif ekonomi dari invasi Soviet.
Rudolf Hess dan kawan-kawan di Heinrich Himmler "Pembangunan dan Perencanaan di Timur" Eksebisi Maret 1941
Di mulai pada bulan Maret 1941, Cetak biru Goering menyatakan usulan secara rinci tentang ekonomi Uni Soviet setelah invasi. Seluruh penduduk Kota dibuat kelaparan sampai mati, sehingga menciptakan sebuah surplus pertanian untuk memberi makan Jerman dan memungkinkan penggantian penduduk kota dengan orang kaya Jerman. Selama Percobaan Nuremberg pada tahun 1946, Sir Hartley Shawcross mengatakan bahwa pada Maret 1941 divisi administratif sebelumnya dibuat di Timur Rusia, telah direncanakan:
  • Ural (Ural pusat dan selatan serta wilayah terdekat, direncanakan reorganisasi wilayah dari timur Eropa Rusia)
  • Siberia Barat ( Siberia barat dan Novosibirsk)
  • Nordland (daerah Soviet Arktik: Rusia pantai utara Eropa dan barat laut Siberia pantai utara))
Di musim panas 1941, Jerman Nazi-ideologis Alfred Rosenberg menyarankan bahwa menaklukkan wilayah Uni Soviet harus diberikan berikut kantor pemerintahannya':
  • Pemerintahan Ostland (negara-negara Baltik dan Belarusia)
  • Pemerintahan Ukraina (Ukraina dan wilayah sekitarnya)
  • Pemerintahan Kaukasus (Rusia Selatan dan Kaukasus)
  • Pemerintahan Moskow (Moskow metropolitan dan sisanya dari Eropa Rusia)
  • Turkistan (wilayah Asia Tengah)
Kebijakan Nazi bertujuan untuk menghancurkan Uni Soviet sebagai entitas politik sesuai dengan geopolitik untuk kepentingan masa depan generasi " Arya ".

Operasi Barbarossa adalah untuk menggabungkan serangan ke arah utara Leningrad, sebuah simbolis merebut Moskow, dan strategi ekonomi merebut ladang minyak di selatan di luar Ukraina. Hitler dan para jendralnya yang tidak setuju pada aspek-aspek ini harus memperoleh prioritas dan Jerman harus memfokuskan energi; menentukan prioritas diperlukan kompromi. Hitler menganggap dirinya politikus dan militer jenius. Ketika merencanakan Barbarossa selama tahun 1940 dan 1941, dalam banyak diskusi dengan para jenderalnya, Hitler mengulangi perintah: "Leningrad pertama, kedua Basin Donetsk, Moskow ketiga." Hitler tidak sabar untuk melanjutkan invasi ke timur. Ia yakin Inggris akan menuntut perdamaian, setelah Jerman menang di Uni Soviet. Jenderal Franz Halder mencatat dalam buku hariannya itu, bahwa dengan menghancurkan Uni Soviet, Jerman akan menghancurkan harapan kemenangan Inggris.

Hitler terlalu percaya diri dari keberhasilan yang pesat di Eropa Barat dan kebodohan Tentara Merah dalam Perang Musim Dingin melawan Finlandia pada 1939-40. Dia mengharapkan kemenangan dalam waktu beberapa bulan, namun tidak mempersiapkan diri untuk sebuah perang yang berlangsung dalam musim dingin.

Catatan kaki

  1. Bergström, p130
  2. Bergström 2007, p. 131-2: Uses Soviet Record Archives including the Rosvoyentsentr, Moscow; Russian Aviation Research Trust; Russian Central Military Archive TsAMO, Podolsk; Monino Air Force Museum, Moscow.
  3. http://www.feldgrau.com/stats.html
  4. Krivosheev, G.F, 1997, p.96. Documented losses only
  5. About the German Invasion of the Soviet Union
  6. THE TREATMENT OF SOVIET POWS: STARVATION, DISEASE, AND SHOOTINGS, JUNE 1941- JANUARY 1942
  7. Bergström, p117
  8. Krivosheyev, G. 1993
  9. Note: Soviet aircraft losses include all causes
  10. Higgins, Trumbull (1966). Hitler and Russia. The Macmillan Company. hlm. 11–59, 98–151.
  11. Bryan I. Fugate. Strategy and tactics on the Eastern Front, 1941. Novato: Presidio Press, 1984.
  12. World War II Chronicle, 2007. Legacy/ Publications International, Ltd. Page 146.
  13. A.J.P Taylor & Colonel D. M Proektor, p.106
  14. A.J.P Taylor & Colonel D. M Proektor 1974, p. 107
  15. Simonov, Konstantin (1979). "Records of talks with Georgi Zhukov, 1965–1966". Hrono.
  16. Life and Death in Besieged Leningrad, 1941–44 (Studies in Russian and Eastern European History), edited by John Barber and Andrei Dzeniskevich. New York: Palgrave Macmillan, 2005 (hardcover, ISBN 1-4039-0142-2).
  17. The siege of Leningrad. By Alan Wykes. Ballantines Illustrated History of WWII, 3rd edition, 1972. Pages 9-61, and, Scorched Earth. (pages 205 - 240) By Paul Carell. Schiffer Military History, 1994. ISBN 0-88740-598-3 and, Finland in the Second World War. Between Germany and Russia. Palgrave. 2002. (pp. 90 - 141)
  18.  Military-Topographic Directorate, maps No. 194, 196, Officer's Atlas. General Staff USSR. 1947. Атлас Офицера. Генеральный штаб вооруженных сил ССР. М., Военно-топографическоее управление,- 1947. Листы 194, 196
  19. Russia's War: A History of the Soviet Effort: 1941-1945 ISBN 0-14-027169-4 by Richard Overy Page 91
  20. The World War II. Desk Reference. Eisenhower Center Director Douglas Brinkley. Editor Mickael E. Haskey. Grand Central Press, Stonesong Press, HarperCollins, 2004. ISBN 0-06-052651-3. Page 210.
  21. Siege of Leningrad. Encyclopedia Britannica
  22. Peter Antill, Peter Dennis. Stalingrad 1942. Osprey Publishing, 2007,ISBN 1-84603-028-5, 9781846030284. p. 7.
  23. Bendersky,Joseph W., A History of Nazi Germany: 1919-1945, Rowman & Littlefield, 2000, ISBN 0-8304-1567-X, page 177
  24. Müller, Rolf-Dieter, Gerd R. Ueberschär, Hitler's War in the East, 1941-1945: A Critical Assessment, Berghahn Books, 2002, ISBN 157181293, page 244
  25. Shirer 1990, hal. 716
  26. Rauschning, Hermann, Hitler Speaks: A Series of Political Conversations With Adolf Hitler on His Real Aims, Kessinger Publishing, 2006,ISBN 142860034, pages 136-7
  27. Text of the Nazi–Soviet Non-Aggression Pact, executed 23 August 1939
  28. Roberts, Geoffrey (2006), Stalin's Wars: From World War to Cold War, 1939–1953, Yale University Press, hlm. 30, ISBN 0300112041
  29. Shirer, William L., The Rise and Fall of the Third Reich: A History of Nazi Germany, Simon and Schuster, 1990 ISBN 0-671-72868-7, page 668-9
  30. Roberts, Geoffrey (2006), Stalin's Wars: From World War to Cold War, 1939–1953, Yale University Press, hlm. 57, ISBN 0300112041
  31. Brackman, Roman, The Secret File of Joseph Stalin: A Hidden Life, London and Portland, Frank Cass Publishers, 2001, ISBN 0-7146-5050-1, page 341-3
  32. Roberts, Geoffrey (2006), Stalin's Wars: From World War to Cold War, 1939–1953, Yale University Press, hlm. 59, ISBN 0300112041
  33. Nekrich, Aleksandr Moiseevich; Ulam, Adam Bruno; Freeze, Gregory L. (1997), Pariahs, Partners, Predators: German-Soviet Relations, 1922-1941, Columbia University Press, hlm. 202-205, ISBN 0231106769
  34. Ericson, Edward E. (1999), Feeding the German Eagle: Soviet Economic Aid to Nazi Germany, 1933–1941, Greenwood Publishing Group, hlm. 127, ISBN 0275963373
  35. Ericson, Edward E. (1999), Feeding the German Eagle: Soviet Economic Aid to Nazi Germany, 1933–1941, Greenwood Publishing Group, hlm. 129-130, ISBN 0275963373
  36. Ericson, Edward E. (1999), Feeding the German Eagle: Soviet Economic Aid to Nazi Germany, 1933–1941, Greenwood Publishing Group, hlm. 138, ISBN 0275963373
  37. Yergin, Daniel (14 Desember 1991). The Prize: The Epic Quest for Oil, Money & Power. New York: Simon & Schuster. ISBN 0-671-79932-0. p. 334
  38. Overy, R. J. (2004), The Dictators: Hitler's Germany and Stalin's Russia, W. W. Norton & Company, ISBN 0393020304
  39. Brackman, Roman (2001), The Secret File of Joseph Stalin: A Hidden Life, Frank Cass Publishers, ISBN 0714650501
  40. Berthon, Simon; Potts, Joanna (2007), Warlords: An Extraordinary Re-creation of World War II Through the Eyes and Minds of Hitler, Churchill, Roosevelt, and Stalin, Da Capo Press, ISBN 0306815389
  41. Gorodetsky, Gabriel (2001), Grand Delusion: Stalin and the German Invasion of Russia, Yale University Press, hlm. 69-70, ISBN 030008459
  42. Ericson, Edward E. (1999), Feeding the German Eagle: Soviet Economic Aid to Nazi Germany, 1933–1941, Greenwood Publishing Group, hlm. 162, ISBN 0275963373
  43. Higgins, Trumbull (1966). Hitler and Russia. The Macmillan Company. hlm. 151.
  44. Bryan I. Fugate. Operation Barbarossa. Strategy and tactics on the Eastern Front, 1941. Novato: Presidio Press, 1984.
  45. Albert Speer identifies these points in the The World At War series in the episode "Barbarossa".

  • Pertempuran Stalingrad


Pertempuran Stalingrad
Bagian dari Front Timur dari Perang Dunia II
German pows stalingrad 1943.jpg
Tentara Jerman digiring ke kamp tawanan Soviet, melewati reruntuhan gudang beras di Stalingrad, Februari 1943
Tanggal 23 Agustus 1942 – 2 Februari 1943
Lokasi Stalingrad, Uni Soviet
Hasil Kemenangan Soviet
Pihak yang terlibat
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Jerman
Flag of Romania.png Rumania
Flag of Italy (1861-1946) crowned.svg Italia
Flag of Spain 1945 1977.svg Spanyol
Flag of Hungary 1940.svg Hungaria
Bendera Kroasia Kroasia
Flag of the Soviet Union (1923-1955).svg Uni Soviet
Komandan
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Adolf Hitler
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Friedrich von Paulus
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Erich von Manstein
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Hermann Hoth
Flag of Romania.png Petre Dumitrescu
Flag of Romania.png Constantin Constantinescu
Flag of Italy (1861-1946) crowned.svg Italo Garibaldi
Flag of Hungary 1940.svg Gusztáv Vitéz Jány
Flag of Spain 1945 1977.svg Agustín Muñoz Grandes
Bendera Kroasia Viktor Pavičić
Flag of the Soviet Union (1923-1955).svg Josef Stalin
Flag of the Soviet Union (1923-1955).svg Vasily Chuikov
Flag of the Soviet Union (1923-1955).svg Aleksandr Vasilevsky
Flag of the Soviet Union (1923-1955).svg Georgy Zhukov
Flag of the Soviet Union (1923-1955).svg Semyon Timoshenko
Flag of the Soviet Union (1923-1955).svg Konstantin Rokossovsky
Flag of the Soviet Union (1923-1955).svg Rodion Malinovsky
Flag of the Soviet Union (1923-1955).svg Andrei Yeremenko
Kekuatan
Grup Tentara B:
Tentara Keenam Jerman
Grup Panser Keempat Jerman
Tentara Ketiga Rumania
Tentara Keempat Rumania
Tentara Kedelapan Italia
Tentara Kedua Hungaria

Rincian:
270.000 orang
3.000 artileri
500 tank
600 pesawat, 1.600 (pertengahan September, Luftflotte 4)

Pada saat serangan balik Soviet:
1.011.000 orang
10.250 artileri
675 tank
732 (402 operasional) pesawat
Front Stalingrad
Front Barat Daya
Front Don
Rincian:
187.000 orang
2.200 artileri
400 tank
300 pesawat

Pada saat serangan balik Soviet: 1.103.000 orang
15.501 artileri
1.463 tank
1.115 pesawat
Jumlah korban
750,000 terbunuh atau terluka
91.000 tertangkap
Pesawat: 900 (termasuk 274 pengangkut dan 165 bomber digunakan sebagai pesawat angkut)
Total: 841,000 korban
478.741 terbunuh atau hilang
650.878 terluka dan sakit
40.000+ warga sipil terbunuh
4.341 tank
15.728 senjata dan mortir
2.769 pesawat tempur
Total: 1.129.619 korban
1 Pertempuran Stalingrad: Kemenangan Soviet, lebih 11.000 pasukan Poros melanjutkan pertempuran sampai awal Maret 1943.




Pertempuran Stalingrad, yang terjadi pada 23 Agustus 1942 hingga 2 Februari 1943, merupakan pertempuran sengit antara Jerman dan sekutunya melawan Uni Soviet, memperebutkan kota Stalingrad (yang sekarang bernama Volgograd), dalam Perang Dunia II. Pertempuran ini dianggap sebagai titik balik Perang Dunia II, dan sebagai pertempuran paling berdarah sepanjang sejarah, dimana 1,5 juta orang lebih terbunuh dari kedua pihak. Kedua pihak bertempur dengan brutal dan tidak memperdulikan korban warga sipil. Pertempuran ini terdiri dari beberapa fase, yaitu pengepungan Jerman terhadap Stalingrad, pertempuran dalam kota, serangan balik Soviet, serta pengepungan serta penghancuran kekuatan-kekuatan Poros di sekitar Stalingrad, yang ditulangpunggungi Tentara Keenam Jerman.

Latar Belakang

Pada bulan Juni 1942, Tentara Jerman (Wehrmacht) melancarkan kampanye musim panas kedua mereka terhadap Uni Soviet, yang disebut Operation Blau (Operasi Biru). Sebelumnya dalam operasi Barbarossa Wehrmacht dihalau di pintu gerbang Moskow pada musim dingin 1941-1942. Operasi Biru diarahkan ke Rusia selatan dengan tujuan merebut ladang minyak di Baku, Azerbaijan, dan membuka jalan untuk menguasai ladang-ladang minyak di Timur Tengah. Pasukan penyerbu Jerman dibagi dua kekuatan, Grup Tentara A menyerbu Kaukasus dan Grup Tentara B menuju sungai Volga dan kota Stalingrad.

Pentingnya Stalingrad

Pada mulanya, Tentara Merah Soviet memilih untuk bergerak mundur guna membuat jalur logistik pasukan Jerman keteteran dengan memanfaatkan luasnya wilayah Uni Soviet. Akan tetapi kemudian Stalin memerintahkan pasukannya untuk bertahan di Stalingrad, yang secara harfiah berarti "kota Stalin". Selain karena menyandang nama Stalin, kota Stalingrad juga penting karena merupakan kota industri terbesar di tepi sungai Volga (jalur transportasi penting ke Laut Kaspia). Jatuhnya Stalingrad ke tangan Jerman akan memudahkan gerak maju pasukan Jerman menuju Kaukasus, yang memiliki cadangan minyak besar, yang amat dibutuhkan oleh Jerman.

Jalannya pertempuran

Menurut perkiraan, sekitar empat puluh ribu tentara dari kedua belah pihak terbunuh dalam setiap harinya. Fuhrer Adolf Hitler memerintahkan pasukannya agar dalam kondisi apapun, kota Stalingrad harus direbut. Akibatnya pasukan Jerman bertempur mati-matian untuk merebut kota tersebut. Namun, rakyat dan tentara di kota Stalingrad juga melakukan perlawanan yang sangat kuat sehingga pasukan Nazi dapat dihadang.

Sementara pasukannya terjebak dalam perang mati-matian di Stalingrad, Komando Tertinggi Jerman tidak menyadari bahwa Stalin telah mengumpulkan bala bantuan untuk menghancurkan pasukan Jerman dalam suatu kampanye musin dingin. Serangan balasan Uni Soviet dilancarkan pada bulan November 1942 ketika salju mulai turun. Serangan tersebut dengan cepat menggulung pasukan Italia, Rumania, dan Hungaria yang melindungi garis belakang Angkatan Darat ke-6 Jerman. Akibatnya, pasukan Jerman yang beroperasi di Stalingrad terkepung.
Sebenarnya, Jerman memiliki kesempatan untuk menarik mundur pasukannya sebelum Tentara Merah menyelesaikan kepungannya. Akan tetapi, Hitler bersikeras agar pasukannya tetap bertahan di Stalingrad dan memerintahkan Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) untuk mengirimkan perbekalan bagi mereka. Akan tetapi, musim dingin yang ganas menghalangi usaha tersebut sehingga bantuan yang dikirimkan tidak cukup untuk memberi makan 330.000 prajurit Jerman dan sekutunya yang berada di Stalingrad.

Suatu usaha lain untuk membebaskan pasukan Jerman yang terkepung dilakukan dengan mengirimkan Tentara Grup Don pimpinan Marsekal Erich von Manstein, salah seorang ahli strategi Jerman yang cemerlang. Akan tetapi, serangan tersebut berhasil dihentikan oleh bala bantuan Soviet yang masih segar di Kotelnikovo. Akhirnya, ketika dihadapkan pada kemungkinan terkepung, von Manstein menarik mundur pasukannya dan meninggalkan rekan-rekannya di Stalingrad menunggu nasib.

Pada tanggal 30 Januari 1943, Tentara Merah dibawah pimpinan Marsekal Georgy Zhukov melancarkan serangan umum ke Stalingrad dan dengan cepat menggulung pasukan Poros yang sudah kelelahan dan menderita kelaparan dan penyakit. Dua hari kemudian, Marsekal Friedrich von Paulus dan 90.000 prajuritnya yang tersisa menyerah.

Para sejarawan menilai, kekalahan Jerman di Stalingrad merupakan awal dari kejatuhan Nazi. Hingga kini pertempuran ini dianggap sebagai pertempuran terbesar dan paling berdarah dalam sejarah manusia. Jumlah korban jiwa diperkirakan mencapai 3 juta jiwa.

Lihat pula:

Youtube : Enemy at the Gates, sebuah film tentang Pertempuran Stalingrad (2001).

Referensi

Catatan kaki

  1. Encyclopedia Britannica Online, 6 Mei 2009.
  2. Beevor98
  3. Kekuatan berkembang mencapai 1.600 pada awal September dengan pembagian kekuatan dari daerah Kuban dan Caucasus Selatan: Hayward 1998, hal. 195
  4. Bergstrom2007
  5. Bergstrom 2005
  6. Россия и СССР в войнах ХХ века - Потери вооружённых сил, Rusia dan USSR pada perang abad ke-20 - Kekalahan kekuatan angkatan bersenjata, Moskow, Olma-Press, 2001. dalam bahasa Inggris
  7. Blanning, T. C. W.. The Oxford Illustrated History of Modern Europe. hlm. 219.
  8. Roberts, Geoffrey. Stalin's Wars. hlm. 154.
  9. Shirer (1990), hal. 864

Bibliografi

  • Baird, Jay W, (1969), Journal of Contemporary History, The Myth of Stalingrad, Sage Publications, Ltd.
  • Bernig,Jorg (1997). Eingekesselt: Die Schlacht um Stalingrad im deutschsprachigen Roman nach 1945: (German Life and Civilization Journal No 23), : Peter Lang publishers.
  • Clark, Alan (1965). Barbarossa: the Russian-German conflict OCLC 154155228
  • Craig, William (1973). Enemy at the Gates: The Battle for Stalingrad New York: Penguin Books (paperback, ISBN 0-14-200000-0)
  • Dibold, Hans (2001) Doctor at Stalingrad. Littleton, CO: Aberdeen, (hardcover, ISBN 0-9713852-1-1).
  • Einsiedel, Heinrich Graf von; Wieder, Joachim. Stalingrad: Memories and Reassessments. New York: Sterling Publishing, 1998 (paperback, ISBN 1-85409-460-2); London: Cassell, 2003 (paperback, ISBN 0-304-36338-3).
  • Erickson, John. The Road to Stalingrad: Stalin's War with Germany, Vol. 1. Boulder, CO: Westview Press, 1984 (hardcover, ISBN 0-86531-744-5); New York: HarperCollins Publishers, 1985 (hardcover, ISBN 0-586-06408-7); New Haven, CT; London: Yale University Press, 1999 (paperback, ISBN 0-300-07812-9); London: Cassell, 2003 (paperback, ISBN 0-304-36541-6).
  • Golovanov, A.Ye.(2004) Dalnyaya bombardirovochnaya. Delta NB, Moscow.
  • Goodwin, Doris Kearns (1994). No Ordinary Time: Franklin and Eleanor Roosevelt: The Home Front in World War II New York: Simon & Schuster (paperback, ISBN 0-671-64240-5)
  • Holl, Adelbert. (2005) An Infantryman In Stalingrad: From 24 September 1942 to 2 February 1943. Pymble, NSW, Australia: Leaping Horseman Books (hardcover, ISBN 0-9751076-1-5).
  • Hoyt, Edwin Palmer. (1999) 199 Days: The Battle for Stalingrad. New York: A Forge Book, (paperback, ISBN 0-312-86853-7).
  • Jones, Michael K. (2007) Stalingrad: How the Red Army Survived the German Onslaught. Drexel Hill, PA: Casemate, (hardcover, ISBN 978-1-932033-72-4)
  • MacDonald, John. (1986) Great Battles of World War II. London: Michael Joseph books.
  • Manstein, Erich von; Powell, Anthony G. (Ed. & Trans.); Liddell Hart, B. H. (Preface); Blumenson, Martin (Introduction) (2004). Lost Victories: The War Memoirs of Hitler's Most Brilliant General. St. Paul, MN: Zenith Press. ISBN 0-7603-2054-3.
  • Mayer, SL & Taylor, AJP (1974). History of World War II. London: Octopus Books. ISBN 0-7064-0399-1 & ISBN 978-0-7064-0399-2
  • Raus, Erhard. Panzer Operations: The Eastern Front Memoir of General Raus, 1941–1945, compiled and translated by Steven H. Newton. Cambridge, MA: Da Capo Press, 2003 (hardcover, ISBN 0-306-81247-9); 2005 (paperback, ISBN 0-306-81409-9).
  • Rayfield, Donald. Stalin and His Hangmen: The Tyrant and Those Who Killed for Him. New York: Random House, 2004 (hardcover, ISBN 0-375-50632-2); 2005 (paperback, ISBN 0-375-75771-6).
  • Roberts, Geoffrey. (2002) Victory at Stalingrad: The Battle that Changed History. New York: Longman, (paperback, ISBN 0-582-77185-4).
  • Samsonov A.M., (1989) Stalingrad Battle, 4th ed. re-edited and added-to, Moscow, Science publishing. bahasa Rusia: Самсонов А.М. Сталинградская битва, 4-е изд., испр. и доп.— М.: Наука, 1989. (in Russian)
  • Shirer, William L. (1960). The Rise and Fall of the Third Reich: A History of Nazi Germany New York: Simon & Schuster.
  • Snyder, David R. (2005). Review in The Journal of Military History 69 (1), 265–266.
  • Taylor, A.J.P. and Mayer, S.L., eds. (1974) A History Of World War Two. London: Octopus Books. ISBN 0-7064-0399-1.


1944 : Serangan Balik

Pasukan Amerika Serikat melakukan invasi di Pantai Omaha.

Invasi Normandia (D-Day), invasi di Perancis oleh pasukan Amerika Serikat dan Inggris, 1944













Invasi Normandia (D-Day)


Invasi Normandia
Bagian dari Perang Dunia II
Kompi E, Infanteri ke-16, Amerika Serikat mendarat di Pantai Omaha, Normandia.
Kompi E, Infanteri ke-16, Amerika Serikat mendarat di Pantai Omaha, Normandia.
Tanggal 6 Juni 1944 – 25 Agustus 1944
Lokasi Normandia, Perancis
Hasil Kemenangan Sekutu
Pihak yang terlibat
US flag 48 stars.svg Amerika Serikat
Flag of the United Kingdom.svg Britania Raya
Canadian Red Ensign.svg Kanada
Flag of Free France 1940-1944.svg Pasukan Kemerdekaan Perancis
Flag of Poland.svg Polandia
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Nazi Jerman
Komandan
US flag 48 stars.svg Dwight Eisenhower
Flag of the United Kingdom.svg Bernard Montgomery
Flag of the United Kingdom.svg Bertram Ramsay
Flag of the United Kingdom.svg Trafford Leigh-Mallory
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Gerd von Rundstedt
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Erwin Rommel
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Friedrich Dollmann
Kekuatan
1.452.000 (25 Juli) 380.000 (23 Juli)
Jumlah korban
45.000 tewas
173.000 terluka atau hilang
200.000 tewas, terluka, atau hilang
200.000 tertangkap

Invasi Normandia, yang nama kodenya adalah Operasi Overlord, adalah sebuah operasi pendaratan yang dilakukan oleh pasukan Sekutu saat Perang Dunia II pada tanggal 6 Juni 1944. Hingga kini Invasi Normandia merupakan invasi laut terbesar dalam sejarah, dengan hampir tiga juta tentara menyeberangi Selat Inggris dari Inggris ke Perancis yang diduduki oleh tentara Nazi Jerman.

Mayoritas satuan tempur pada serangan ini adalah pasukan Amerika Serikat, Britania Raya, dan Kanada. Pasukan Kemerdekaan Perancis dan pasukan Polandia ikut bertempur setelah fase pendaratan. Selain itu, pasukan dari Belgia, Cekoslowakia, Yunani, Belanda, dan Norwegia juga turut serta.
Invasi Normandia dibuka dengan pendaratan parasut dan glider pada dini hari, serangan udara dan artileri laut, dan pendaratan amfibi pagi hari, pada 6 Juni, D-Day. Pertempuran untuk menguasai Normandia berlanjut selama lebih dari dua bulan, dengan kampanye untuk menembus garis pertahanan Jerman dan menyebar dari pantai yang sudah dikuasai Sekutu. Invasi ini berakhir dengan dibebaskannya Paris, dan jatuhnya kantong Falaise pada akhir Agustus 1944.

Persiapan

Persiapan sekutu

Latihan pendaratan di Inggris.
Setelah invasi Jerman terhadap Uni Soviet (Operasi Barbarossa), Sovietlah yang melakukan mayoritas pertempuran menghadapi Jerman di Eropa. Presiden Franklin D. Roosevelt dan Perdana Menteri Winston Churchill pada tahun 1942 menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Britania Raya siap membuka "front kedua" di Eropa untuk membantu Uni Soviet menghadapi Jerman, pernyataan ini dinyatakan lagi pada musim semi tahun 1943.
Britania Raya, di bawah Winston Churchill, ingin menghindari serangan langsung seperti pada Perang Dunia I yang pasti akan menyebabkan banyak korban. Mereka juga lebih menyukai menggunakan taktik terselubung dengan membantu para pemberontak yang diduduki Jerman, lalu melakukan serangan dari Mediterania, ke Wina, lalu memasuki Jerman dari selatan. Cara seperti ini juga dianggap dapat membatasi masuknnya Soviet ke Eropa.


Rencana pendaratan Sekutu dan posisi pertahanan Jerman.
Namun Amerika Serikat menganggap bahwa cara paling optimal adalah serangan langsung dari markas Sekutu yang paling dekat dan besar. Mereka sangat menginginkan metode ini, dan menyatakan bahwa hanya cara inilah yang akan mereka dukung dalam jangka panjang. Dua proposal awal direncanakan: Operasi Sledgehammer, yang merupakan invasi untuk tahun 1942, dan Operasi Roundup, yaitu invasi lebih besar pada tahun 1943. Proposal yang kedua diterima, lalu diganti namanya menjadi Operasi Overlord dan ditunda sampai 1944.

Sekitar 6.900 kendaraan laut, termasuk 4.100 kendaraan pendarat, digunakan untuk invasi ini, dipimpin oleh Admiral Bertram Ramsay. Kemudian 12.000 pesawat terbang, termasuk 1.000 pesawat pembawa penerjun payung, berada di bawah Marsekal Udara Trafford Leigh-Mallory. 10.000 ton bom akan dijatuhkan ke pertahanan Jerman, dan pesawat-pesawat ini akan melakukan 14.000 misi serangan.

Peralatan khusus

Untuk melancarkan jalannya invasi ini, Sekutu mengembangkan banyak peralatan khusus. Mayor-Jenderal Percy Hobart ditugaskan untuk mengetuai pengembangan kendaraan lapis baja khusus. Kendaraan-kendaraan ini, yang dijuluki Hobart’s Funnies, antara lain tank yang bisa berenang Sherman Duplex Drive, tank pembersih ranjau, tank pembuat jembatan, tank pembuat jalanan, dan tank khusus untuk menghancurkan gedung beton. Pengetesan kendaraan-kendaraan ini dilakukan di Kirkham Priory di Yorkshire, Inggris.

Selain kendaraan lapis baja, dibuat juga dua pelabuhan buatan Mulberry Harbour agar bisa mendatangkan persediaan secara cepat, ditambah dengan tidak adanya pelabuhan laut dalam di lokasi pendaratan. Untuk mengirimkan bahan bakar dari Inggris, Sekutu menjalankan Operasi PLUTO (Pipe Line Under The Ocean), yaitu jalur pipa bawah laut.

Persiapan Jerman

Pada tahun 1942 dan 1943, Jerman menganggap bahwa kemungkinan serangan Sekutu dari barat sangat kecil. Persiapan menghadapi invasi hanya berupa pembangunan fortifikasi yang melindungi pelabuhan-pelabuhan utama oleh Organisasi Todt.

Pada akhir 1943, berkumpulnya kekuatan Sekutu di Inggris menyebabkan Komandan Bagian Barat Jerman, Marsekal Medan Gerd von Rundstedt, untuk meminta tambahan pasukan. Pasukan yang dimiliki sebelumnya hanya merupakan formasi statik saja, tanpa alat-alat transportasi dan peralatan dukungan. Selain itu pasukan itu terdiri dari tentara yang tidak sempurna secara fisik (misalnya orang-orang yang kehilangan jarinya oleh dinginnya Front Timur), atau merupakan wajib militer Polandia dan negara non-Jerman lainnya.

Selain tambahan pasukan, von Rundstedt mendapatkan anak buah baru, Marsekal Medan Erwin Rommel. Rommel awalnya hanya ditugaskan untuk memeriksa Tembok Atlantik, namun kemudian meminta untuk diberi tugas memimpin pasukan pertahanan Perancis utara, Belgia, dan Belanda. Permintaan ini dipenuhi dan pasukan yang dipimpinnya digabungkan dalam Grup B Angkatan Darat pada Februari 1944.

Pendaratan

Pendaratan udara

Jenderal Dwight D. Eisenhower berbicara kepada pasukan penerjun payung Amerika Serikat sebelum keberangkatan mereka
.
Pendaratan udara dilakukan untuk merebut posisi-posisi kunci, dengan tujuan memblokir serangan balik Jerman, mengamankan bagian samping pendaratan laut, dan melancarkan pergerakan pasukan laut dari pantai. Divisi Lintas Udara Amerika Serikat ke-82 dan 101 ditugaskan untuk mengamankan samping barat, dan Divisi Lintas Udara ke-6 Britania Raya ditugaskan ke samping timur.

Pendaratan udara Britania Raya

Di timur lokasi pendaratan laut, terdapat wilayah yang terbuka dan datar, yang ideal untuk serangan kendaraan lapis baja Jerman. Namun, wilayah terbuka tersebut dan lokasi pendaratan laut dipisahkan oleh Sungai Orne, yang mengalir dari Caen sampai Tanjung Seine. Satu-satunya penyeberangan sungai ini di utara Caen berada tujuh kilometer dari lokasi pendaratan laut, yaitu di dekat Bénouville dan Ranville. Untuk Jerman, ini merupakan satu-satunya rute untuk serangan balik dari samping timur, sementara bagi Sekutu, penyeberangan ini sangat penting untuk serangan ke Caen.



Anggota Divisi Lintas Udara ke-101 setelah merebut desa St. Marcouf, 8 Juni.
Objektif taktis Divisi Lintas Udara ke-6 Britania Raya adalah merebut jembatan-jembatan penyebrangan di Bénouville-Ranville, bertahan menghadapi serangan balik Jerman, menghancurkan meriam artileri di Merville yang menembak ke Pantai Sword, dan menghancurkan lima jembatan di Sungai Dives.

 

Pendaratan udara Amerika Serikat

Pendaratan udara Amerika Serikat dilakukan oleh Divisi Lintas Udara ke-82 (Operasi Detroit) dan 101 (Operasi Chicago). Pada saat pendaratan, para penerjun payung tersesat dan tidak dapat berkumpul dengan baik. Ini dikarenakan oleh lokasi pendaratan yang tidak ditandai, cuaca yang buruk, dan medan yang sulit. Setelah 24 jam, hanya 2.500 dari 6.000 anggota Divisi Lintas Udara 101 yang telah bergabung kembali. Tetapi, tersebarnya pasukan penerjun payung Amerika Serikat membantu membingungkan tentara Jerman.
Pada pagi hari tanggal 6 Juni, Divisi Lintas Udara ke-82 berhasil merebut Sainte-Mère-Église, kota pertama yang direbut pada invasi ini.

Pantai Sword

Tentara Inggris berlindung setelah mendarat di Pantai Sword.

Serangan pada Pantai Sword dimulai pada jam 03.00 dengan serangan udara ke pertahan laut dan artileri Jerman. Serangan artileri laut dimulai beberapa jam kemudian. Pada jam 0730, satuan-satuan pertama berhasil mendarat di pantai. Satuan ini adalah satuan tank Sherman DD milik Hussar ke-13/18, yang diikuti oleh infanteri Brigade ke-8.
Pada Pantai Sword, infanteri Britania Raya berhasil mendarat dengan sedikit korban. Pada akhir hari itu, mereka berhasil maju sejauh delapan kilometer, tetapi gagal mendapatkan target ambisius Montgomery, khususnya Caen yang merupakan objektif utama, yang tetap dikuasai Jerman sampai akhir D-Day.

Pantai Juno

Pasukan Kanada menuju Pantai Juno.
Pasukan Kanada yang mendarat di Pantai Juno berhadapan dengan 11 meriam berat 155 mm dan 9 meriam sedang 75 mm, juga senapan mesin, bunker, dan fortifikasi beton lainnya. 50% gelombang pertama yang mendarat tewas, pendaratan ini adalah pendaratan pantai dengan jumlah korban tertinggi ke-2 setelah Pantai Omaha. Pemakaian Sherman DD termasuk sukses di Pantai Juno, dengan beberapa, sesuai rencana, sampai duluan sebelum infanteri dan membantu menghancurkan pertahanan Jerman.

Pantai Juno
Bagian dari Perang Dunia II, Invasi Normandia
Pasukan Kanada menuju Pantai Juno.
Pasukan Kanada menuju Pantai Juno.
Tanggal 6 Juni 1944
Lokasi Courseulles-sur-Mer, Saint-Aubin-sur-Mer dan Bernières-sur-Mer, di Perancis
Hasil Kemenangan Kanada.
Pihak yang terlibat
Flag of Canada 1921.svg Kanada Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Nazi Jerman
Komandan
Flag of Canada 1921.svg R.F.L. Keller Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Wilhelm Richter
Kekuatan
15.000 7.771
Jumlah korban
340 tewas
574 terluka
Tidak diketahui

Pantai Juno merupakan nama kode yang diberikan Sekutu untuk sebuah lokasi pendaratan pantai pada Invasi Normandia, pada tanggal 6 Juni 1944. Pantai ini berada di antara Pantai Sword dan Pantai Gold, terbentang dari Saint-Aubin-sur-Mer di ujung timur sampai Courseulles-sur-Mer di ujung barat. Lokasi pendaratan ini juga dikenal dengan nama pantai Kanada, karena yang mendarat disini adalah Divisi Infanteri ke-3 dan Brigade Lapis Baja ke-2 Kanada.

Pantai Gold

Korban juga banyak pada Pantai Gold, di mana kedatangan tank perenang Sherman DD tertunda, dan Jerman telah memfortifikasi sebuah desa di pantai dengan baik. Namun Divisi Infanteri ke-50 berhasil mengalahkan pertahanan ini dan maju sampai dekat Bayeux. Divisi ini adalah salah satu yang paling jauh mendekati objektif utamanya.


Pantai Gold
Bagian dari Perang Dunia II, Invasi Normandia
Tentara Britania Raya mendarat di Arromanches.
Tentara Britania Raya mendarat di Arromanches.
Tanggal 6 Juni 1944
Lokasi Arromanches, Le Hamel, La Rivière, di Perancis
Hasil Kemenangan Britania Raya
Pihak yang terlibat
Flag of the United Kingdom.svg Britania Raya Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Nazi Jerman
Komandan
Flag of the United Kingdom.svg Miles Dempsey Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Wilhelm Richter
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Dietrich Kraiss
Kekuatan
24.970 Tidak diketahui
Jumlah korban
400 Tidak diketahui

Pantai Omaha


Tentara Amerika Serikat bersiap-siap untuk mendarat di Pantai Omaha

Pointe du Hoc

Tebing di Point du Hoc yang harus dipanjat tentara Amerika Serikat.

Pantai Utah

Pendaratan di Pantai Utah merupakan pendaratan dengan korban paling sedikit. Divisi Infanteri ke-4 yang mendarat di pantai ini ternyata mendarat di tempat yang salah karena arus yang mendorong kendaraan pendarat mereka ke arah tenggara, ke daerah yang tidak dijaga dengan baik. Divisi ini kemudian maju ke daratan dengan mudah, ditambah dengan bantuan dari Resimen Infanteri Parasut ke-502 dan 506. Dengan korban yang sangat sedikit, mereka juga dapat bergerak dengan cepat, dengan tingkat kesuksesan yang sangat tinggi.

Pantai Utah
Bagian dari Perang Dunia II, Invasi Normandia
Tank perenang Sherman Duplex Drive di pantai Utah.
Tank perenang Sherman Duplex Drive di pantai Utah.
Tanggal 6 Juni 1944
Lokasi Pouppeville, La Madeleine, di Perancis
Hasil Kemenangan Amerika Serikat
Pihak yang terlibat
Flag of the United States.svg Amerika Serikat Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Nazi Jerman
Komandan
Theodore Roosevelt, Jr. Karl-Wilhelm von Schlieben
Dietrich Kraiss
Kekuatan
32.000 Tidak diketahui
Jumlah korban
200 Tidak diketahui


Setelah pendaratan

Pendaratan pasukan dan persediaan di Pantai Omaha.
Setelah pantai dikuasai, dua pelabuhan buatan Mulberry Harbour diderek melalui Selat Inggris dan selesai dirakit pada D+3 (9 Juni). Satu dibuat di Arromanches oleh pasukan Britania Raya, dan satu lagi di Pantai Omaha oleh Amerika Serikat. Pada tanggal 19 Juni sebuah badai menunda kegiatan pengiriman persediaan dan menghancurkan pelabuhan buatan di Pantai Omaha. Ketika itu, Britania Raya sudah mendaratkan 314.547 orang, 54.000 kendaraan, dan 102.000 ton persediaan. Sementara Amerika Serikat telah mendaratkan 314.504 orang, 41.000 kendaraan, dan 116.000 ton persediaan.

Cherbourg

Di bagian barat invasi, pasukan Amerika Serikat ditugaskan untuk menguasai Semenanjung Cotentin, khususnya Cherbourg, yang memiliki pelabuhan laut dalam. Wilayah di belakang pantai Utah dan Omaha dicirikan oleh bocage, yaitu parit kuno dan pagar tanaman yang tebalnya sampai tiga meter, tersebar setiap 100 sampai 200 meter, membuatnya sangat menyulitkan untuk tank, peluru, dan penglihatan, dan menjadi tempat bertahan yang ideal. Infanteri Amerika Serikat maju menuju Cherbourg dengan lambat, dan dengan banyak korban. Bagian ujung semenanjung baru didatangi pada 18 Juni. Setelah melawan pasukan Sekutu dengan gigih, komandan Cherbourg, Letnan Jenderal von Schlieben, akhirnya menyerah setelah sebelumnya sempat menghancurkan pelabuhan Cherbourg, yang membuat pelabuhan itu baru bisa dipakai pada pertengahan Agustus.

Pertempuran Cherbourg
Bagian dari Perang Dunia II, Invasi Normandia
Tentara Jerman yang tertangkap di Cherbourg.
Tentara Jerman yang tertangkap di Cherbourg.
Tanggal 6 Juni 1944 – 30 Juni 1944
Lokasi Normandia, Perancis
Hasil Kemenangan Sekutu
Pihak yang terlibat
Sekutu Nazi Jerman
Komandan
J. Lawton Collins Friedrich Dollman
Kekuatan
Tidak diketahui 40.000
Jumlah korban
2.800 tewas, 5.700 hilang, 13.500 terluka 39.000 tertangkap

Pertempuran Cherbourg adalah bagian dari Invasi Normandia pada Perang Dunia II, yang terjadi langsung setelah pendaratan pasukan Sekutu pada 6 Juni 1944. Pasukan Sekutu mengisolasi lalu menyerang pelabuhan yang terfortifikasi, yang merupakan aset penting untuk kampanye Eropa Barat.



Caen

Peta serangan Operasi Goodwood di Caen.

Menembus garis pantai

Peta kampanye untuk menembus garis pertahanan Jerman.
 Strategi penting yang dilakukan Montgomery adalah membuat Jerman memfokuskan pasukan cadangan mereka ke bagian timur invasi agar garis pertahanan Jerman bisa ditembus di bagian barat. Strategi ini berhasil, dan setelah Operasi Goodwood, Jerman telah memobilisasikan sisa pasukan cadangan mereka untuk menghadapi pasukan Britania Raya dan Kanada di selatan Caen. Operasi untuk menembus garis pantai (beachhead), yang dinamakan Operasi Kobra, dilakukan pada tanggal 24 Juli oleh First Army Amerika Serikat. Operasi ini berhasil dengan baik, Korps VIII berhasil menembus pertahanan Jerman dan memasuki Coutances, di bagian barat Semenanjung Cotentin, pada 28 Juli.
Montgomery lalu melanjutkan serangan di bagian barat dengan bergerak ke selatan, kemudian divisi-divisi lapis baja Britania Raya dibuat ikut maju ke selatan bersama dengan Third Army Amerika Serikat pada Operasi Bluecoat, 30 Juli sampai 7 Agustus. Serangan ini berhasil membuat Jerman terpaksa mengalihkan pasukan ke arah barat, yang kemudian ditindak-lanjuti oleh Britania Raya dan Kanada yang maju dari Caen pada Operasi Totalize, 7 Agustus.

Kantong Falaise

Serangan Sekutu mengepung Jerman di kantong Falaise.

Penutupan invasi

Kampanye Normandia menurut beberapa sejarawan berakhir pada tengah malam 24-25 Juli 1944, yaitu pada awal Operasi Kobra, atau pada tanggal 25 Juli, dengan direbutnya Sungai Seine. Rencana awal Operasi Overlord memperkirakan kampanye sepanjang 90 hari di Normandia, dengan tujuan akhir mencapai Sungai Seine; target ini tercapai dengan lebih cepat. Pihak Amerika Serikat berhasil mencapai target mereka lebih awal dengan penembusan besar pada Operasi Kobra.
Kemenangan Sekutu di Normandia kemudian dilanjuti dengan usaha untuk menguasai perbatasan Perancis, dan Jerman terpaksa mengirim pasukan dan sumber daya dari Front Timur dan Italia untuk membantu pasukan mereka di front baru ini.

Rujukan

  1. Zetterling: "Pada 25 Juli terdapat sebanyak 812.000 tentara AS dan 640.000 tentara Britania di Normandia."
  2. Zetterling: "Ketika Operasi Kobra diluncurkan, pihak Jerman telah mendatangkan sekitar 410.000 pasukannya yang terbagi dalam unit pejuang divisi maupun non-divisi. Jika dikalikan dengan 1,19 maka hasilnya adalah sekitar 490.000 tentara. Walaupun begitu, hingga 23 Juli korban tewas hanya berjumlah 116.863, sementara hanya 10.078 tentara pengganti yang telah tiba."
  3. Amerika Serikat: 29.000 tewas, 106.000 terluka atau hilang;
    Britania Raya: 11.000 tewas, 54.000 terluka atau hilang;
    Kanada: 5.000 tewas; 13.000 terluka atau hilang;
    Perancis: 12.200 warga sipil terluka atau hilang
  4. Williams, Jeffery. The Long Left Flank.
  5. Hastings, Max. Overlord.
  6. Stacey, C.P. Official History of the Canadian Army in the Second World War. Volume III: The Victory Campaign
  7. United States Army in World War II: European Theater of Operations. The Supreme Command, Forrest C. Pogue, CMH Publication 7-1, Office of the chief of military history, Department of the Army, Washington D.C., U.S.A. (1954)

Referensi

  • Overlord, D-Day, June 6, 1944, Max Hastings, 1984
  • The Longest Day, Cornelius Ryan, Simon & Schuster 2nd ed., 1959, ISBN 0-671-20814-4
  • D-Day, Warren Tute, John Costello, Terry Hughes, Pan Books Ltd, 1975
  • Normandy 1944, Allied Landings and Breakout; Osprey Campaign Series #1; Stephen Badsey, Osprey Publishing, 1990
  • Normandy 1944, German Military Organisation, Combat Power and Organizational Effectiveness; Niklas Zetterling, J.J. Fedorowicz Publishing Inc., 2000, ISBN 0-921991-56-8.
  • D-Day: The Invasion of Normandy, June 6, 1944, Michael J. Varhola, Savas, 2001.
  • Operation Cobra 1944, Breakout from Normandy; Osprey Campaign Series #88; Steven J. Zaloga, Osprey Publishing, 2001
  • D-Day 1944 (3), Sword Beach & the British Airborne Landings; Osprey Campaign Series #105; Ken Ford, Osprey Publishing, 2002
  • D-Day 1944 (4), Gold & Juno Beaches; Osprey Campaign Series #112; Ken Ford, Osprey Publishing, 2002
  • D-Day 1944 (1), Omaha Beach; Osprey Campaign Series #100, Steven J. Zaloga, Osprey Publishing, 2003
  • D-Day 1944 (2), Utah Beach & the US Airborne Landings; Osprey Campaign Series #104, Steven J. Zaloga, Osprey Publishing, 2004
  • Morning: Normandy Invasion (June–August 1944), episode 17 of BBC series The World at War (1974)
  • Montgomery, Bernard Law, Nigel Hamilton, Oxford Dictionary of National Biography O.U.P. (2004)


1945 : Runtuhnya Kekuasaan Nazi Jerman

Pada akhir bulan april 1945, ibukota Jerman yaitu Berlin sudah dikepung oleh Uni Soviet dan pada tanggal 1 Mei 1945, Adolf Hitler bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri bersama dengan istrinya Eva Braun di dalam bunkernya, sehari sebelumnya Adolf Hitler menikahi Eva Braun, dan setelah mati memerintah pengawalnya untuk membakar mayatnya. Setelah menyalami setiap anggotanya yang masih setia. Pada tanggal 2 Mei, Karl Dönitz diangkat menjadi pemimpin menggantikan Adolf Hitler dan menyatakan Berlin menyerah pada tanggal itu juga. Disusul Pasukan Jerman di Italia yang menyerah pada tanggal 2 juga. Pasukan Jerman di wilayah Jerman Utara, Denmark dan Belanda menyerah tanggal 4. Sisa pasukan Jerman dibawah pimpinan Alfred Jodl menyerah tanggal 7 mei di Rheims, Perancis. Tanggal 8 Mei, penduduk di negara-negara sekutu merayakan hari kemenangan, tetapi Uni Soviet merayakan hari kemenangan pada tanggal 9 Mei dengan tujuan politik.

Operasi Bagration


Operasi Bagration
Bagian dari Perang Dunia II
Front Timur pada saat Operasi Bagration.
Front Timur pada saat Operasi Bagration.
Tanggal 22 Juni 1944 - 19 Agustus 1944
Lokasi Belarusia, Uni Soviet
Hasil Kemenangan Soviet
Pihak yang terlibat
Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Axis  Uni Soviet
Komandan
Ernst Busch
Walter Model
Ferdinand Schorner
Konstantin Rokossovski
Georgy Zhukov
Aleksandr Vasilevsky
Kekuatan
800.000 1.700.000
Jumlah korban
(Estimasi Soviet)
400.000 tewas,
158.000 tertangkap,
590.000 terluka
(Estimasi Jerman)
260.000 tewas,
250.000 terluka,
116.000 tertangkap
178.507 tewas/hilang,
587.308 terluka/sakit,
Total korban: 765.815



Pada Perang Dunia II, Operasi Bagration adalah serangan umum oleh tentara Soviet untuk mengusir tentara Nazi dari Belarusia yang menyebabkan hancurnya Satuan Tentara Tengah Jerman dan mungkin merupakan kekalahan Wehrmacht yang terbesar selama Perang Dunia II.

Satuan Tentara Tengah terbukti sulit untuk dihancurkan sebagaimana ditunjukkan oleh kekalahan Zhukov dalam operasi Mars. Tetapi pada bulan Juni 1944, situasinya berbeda karena meskipun garis depannya telah diperpendek, Satuan ini jadi terbuka setelah hancurnya Satuan Tentara Selatan pada pertempuran-pertempuran yang terjadi sesudah Pertempuran Kursk, Pembebasan Kiev dan Pembebasan Krimea pada akhir musim panas dan berlanjut sampai musim gugur dan musim dingin 1943 - 1944 yang kemudian dinamakan periode ketiga Perang Patriotik Besar.

Operasi Bagration, digabung dengan Operasi Lvov-Sandomierz yang dimulai beberapa minggu kemudian di Ukraine, menyebabkan Uni Soviet menguasai kembali praktis semua wilayahnya berdasarkan perbatasan tahun 1941, bergerak ke wilayah Jerman di Prusia Timur, dan mencapai pinggiran Warsawa setelah menguasai wilayah Polandia di timur sungai Vistula.

Pertempuran ini digambarkan sebagai kemenangan teori "seni operasi" Soviet - yaitu koordinasi total antara semua gerakan di garis depan dan lalu lintas sinyal untuk menipu musuh mengenai arah serangan yang sebenarnya. Meskipun satuan yang terlibat sangat banyak, para komandan garis depan Soviet membuat musuh mereka bingung tentang poros serangannya hingga pihak Jerman sangat terlambat untuk memperbaiki keadaan.

Serangan

Serangan ini dimulai pada pagi tanggal 22 Juni 1944, tepat tiga tahun setelah serangan Jerman ke Uni Soviet. Namun Panglima Tertinggi Angkatan Perang (OKW) telah memperkirakan serangan terhadap Satuan Tentara Selatan, yang sudah sangat lemah dan dipukul mundur dari sebagian besar Ukraina, dan karena itu mendapatkan bantuan persenjataan dari Satuan Militer Tengah sesaat sebelum serangan.
Operasi Bagration mempertarungkan 1.700.000 tentara Soviet yang terbagi dalam 200 divisi dengan 6000 tank dan artileri melawan 34 divisi Jerman dari Satuan Tentara Tengah. Hasilnya adalah hampir 350.000 tentara Jerman terbunuh atau tertawan.

Operasi Lvov-Sandomierz yang berlangsung tidak begitu jauh dari Operasi Bagration dimulai pada tanggal 17 Juli 1944, dengan cepat memukul mundur tentara Jerman di Ukraina. Serangan yang sangat cepat membawa pasukan Soviet ke gerbang Warsawa pada akhir Juli. Operasi Bagration juga memotong dan mengisolasi unit Jerman dari Satuan Tentara Utara yang bertempur di Courland. Operasi ini membantu Soviet bergerak ke Balkan pada bulan Agustus 1944.

Operasi ini dihentikan hanya setelah garis pasokan Soviet terancam karena terlalu banyak dikerahkan, begitu hebatnya sesuai dengan kemenangan mereka. Namun, masih tetap muncul pertikaian tentang keputusan pasukan Soviet untuk menawarkan bantuan yang terbatas - dan terlambat - kepada Pasukan Polandia dalam Pemberontakan Warsawa yang mulai tepat ketika pasukan-pasukan Soviet mencapai perbatasan timur kota itu.
Yang ikut menyebabkan kekalahan Jerman adalah pemindahan unit-unitnya untuk menghadapi invasi Normandia dua minggu sebelumnya. Karenanya, empat "Front" (satuan militer) Soviet dengan jumlah keseluruhan lebih dari 120 divisi menghantam garis pertahanan Jerman yang dipertahankan oleh sedikit pasukan. Soviet memperoleh rasio sepuluh banding satu untuk tank dan tujuh banding satu untuk pesawat dibandingkan musuhnya. Kelebihan Soviet dalam hal jumlah dan kualitas menyebabkan Jerman kewalahan. Pertahanan Jerman berantakan.

Posisi pasukan saat Operasi Bagration.
Ibukota Belorusia, Minsk, direbut pada tanggal 3 Juli, memerangkap 50.000 tentara Jerman. Sepuluh hari kemudian Tentara Merah mencapai perbatasan Polandia pada masa sebelum perang. Hancurnya Satuan Tentara Tengah membuat Jerman kehilangan 2.000 tank dan 57.000 kendaraan lainnya. Korban di pihak Jerman diperkirakan 300.000 meninggal, 250.000 terluka, dan sekitar 120.000 tertawan; korban keseluruhan 670.000 orang. Korban di pihak Soviet adalah 60.000 terbunuh, 110.000 terluka, dan sekitar 8.000 hilang. Selain itu Soviet juga kehilangan 2.957 tank, 2.447 artileri, dan 822 pesawat.


Setelah pertempuran

Dibandingkan pertempuran lainnya, pertempuran ini adalah kemenangan terbesar Soviet dalam hal jumlah, karena menyebabkan 4 kali lipat korban di pihak Jerman dan berhasil menguasai kembali wilayahnya dalam jangka waktu 2 bulan. Ini adalah satu dari sedikit pertempuran dimana Jerman kehilangan lebih banyak tentara dibandingkan Soviet.
Tentara Jerman tidak pernah pulih dari kehilangan material dan pasukan yang dideritanya kali ini setelah kehilangan seperempat dari tentaranya di Front Timur, sama dengan persentase kehilangan di Stalingrad.

Nama operasi ini diambil dari nama Jenderal Petr Bagration, yang gugur pada Pertempuran Borodino.

Akibat perang

Jumlah korban meninggal dalam Perang Dunia II. Indonesia merupakan negara dengan jumlah korban kelima terbanyak, yang hampir semuanya adalah dari rakyat sipil

Akibat Perang Dunia II adalah banyaknya korban sipil yang berjatuhan pada pihak yang terlibat Perang Dunia II. Selain itu juga Perang Dunia II menyebabkan tampilnya negara superpower yaitu Amerika Serikat yang berideologi sistem pemerintahan liberal dan Uni Soviet yang berideologi Komunis. Juga setelah Perang Dunia II, maka juga menyebabkan berdirinya PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) yang sampai sekarang memperjuangkan perdamaian dunia.

Sumber : wikipedia